Pulang
Aku menulis ini melalui ponsel pintar yang lebih tepatnya membuat di empunya berubah menjadi autis. Ansos. Atau apalah yang orang lain sebutkan. Aku dalam perjalanan pulang, sayang. Menuju ke sebuah tempat yang kusebut rumah. Bukan. Bukan sebuah rumah untuk hati. Belumkah kau tau, kalau hatiku telah memiliki tempatnya pulang di dirimu? Namun, sayang, meskipun kau belum mengetahuinya, itu tak akan membuatku mencari rumah lain yang lebih nyaman. Taukah kau sayang, aku menemukan rumah ini tanpa terduga, aku menemukannya dibalik lensa yang selalu menutupi mata beningmu. Ya, beruntunglah aku, karena tiap bertemu denganmu, kau tak pernah melupakan lensa kotak berbingkai hitam yang selalu bertengger di puncak hidung mancungmu. Hingga aku dapat menahan diri untuk tidak terhisap dalam tatapanmu yang begitu mempesonaku. Ah, aku tak mencoba memujimu dengan sepenggal tulisan yang tak beraturan ini, sayang. Aku hanya menuliskan sebuah kejujuran yang harus kau lihat. Ah, kan, aku selalu menjadi me...