Postingan

Menampilkan postingan dengan label My Live

Life After You

Gambar
Halo masa lalu, apa kabar? Aku harap kamu baik baik saja dengan semua harapan yang (semoga) masih setia kau simpan. 30 Juli 2016. Tepat beberapa tahun ketika aku pertama kali berkenalan denganmu. Ya  perkenalan singkat kita di dunia maya yang berujung dengan pertemuan pertama menjelang masa orientasi mahasiswa. Kita ditemukan dalam rencana Tuhan yang matang. Aku. Kamu. Dan mereka yang berada dalam lingkaran kita. Kita dekat. Tapi bukan seperti dekat yang mereka maksudkan. Kita jarang menyapa. Hanya sering melemparkan jokes garing yang membuat masing masing kita meringis menahan malu. Yang jelas, bersamamu, my life is like a roller coaster. Terkadang ada bahagia yang berbalut sedih. Serta sedih yang muncul di akhir bahagia kita. Entah apa yang membuat moodmu dengan begitu mudahnya berganti setiap waktu. Aku ingat, di suatu senja di bukit belakang kampus. Kita. Bukan. Bukan kita berdua, kau tentu ingat, kita kan tak pernah menghabiskan waktu hanya berdua. Kita. Aku, kamu, dan...

Pulang

Aku menulis ini melalui ponsel pintar yang lebih tepatnya membuat di empunya berubah menjadi autis. Ansos. Atau apalah yang orang lain sebutkan. Aku dalam perjalanan pulang, sayang. Menuju ke sebuah tempat yang kusebut rumah. Bukan. Bukan sebuah rumah untuk hati. Belumkah kau tau, kalau hatiku telah memiliki tempatnya pulang di dirimu? Namun, sayang, meskipun kau belum mengetahuinya, itu tak akan membuatku mencari rumah lain yang lebih nyaman. Taukah kau sayang, aku menemukan rumah ini tanpa terduga, aku menemukannya dibalik lensa yang selalu menutupi mata beningmu. Ya, beruntunglah aku, karena tiap bertemu denganmu, kau tak pernah melupakan lensa kotak berbingkai hitam yang selalu bertengger di puncak hidung mancungmu. Hingga aku dapat menahan diri untuk tidak terhisap dalam tatapanmu yang begitu mempesonaku. Ah, aku tak mencoba memujimu dengan sepenggal tulisan yang tak beraturan ini, sayang. Aku hanya menuliskan sebuah kejujuran yang harus kau lihat. Ah, kan, aku selalu menjadi me...

Cinta Itu Kamu ^_^

Kadang angin terlalu lembut dan tak bisa dirasakan Kadang mendung terlalu kelabu hingga menutupi indah langit senja. Kadang.. cinta terlalu sulit diutarakan hingga ia perlahan menghilang.. Langit senja masih memancarkan indahnya. Bias-bias palet warna orange bercampur putihnya awan, membaur menjadi satu di langit nan luas. Semesta. Kadang semesta begitu bersahabat, kadang mereka memberikan kita pemandangan diluar apa yang kita bisa bayangkan. Aku selalu suka bau tanah basa selepas hujan. Aku selalu suka palet warna yang dibiaskan mentari di ufuk barat. Aku selalu suka saat angin lembut menerpa wajahku dan menerbangkan beberapa helai rambutku. Aku suka rintik hujan. Aku suka teh panas di gelas kaca. Mereka selalu menenangkanku, menemaniku saat aku sendirian, kesepian, dan perindukan orang-orang yang kusayang. Aku akan tersenyum dalam hati saat hujan mengetuk-ngetuk jendela kaca ruang kuliahku. Aku bisa berlama-lama menadahi air hujan dengan telapak tanganku. Aku bisa menghabiska...

Love is Beautiful ^-^

"Love is like the wind, you can't see it but you can feel it" — Nicholas Sparks (A Walk to Remember) Bener kok, apa yang tulias om Nicholas di Novelnya. Cinta itu seperti angin, kamu ngga bisa melihatnya, tapi kamu bisa merasakannya. Cinta juga seperti pasir, dimana kamu semakin kuat menggenggamnya, maka ia akan semakin berkurang. Ada saatnya mengekang pasangan kita, namun, ada saatnya juga membiarkan ia terbang bebas menikmati indahnya dunia. Merasakan cinta, bisa diibaratkan saat kita membeli buah. Terkadang kita mendapat yang manis, terkadang pula kita mendapat yang pahit. Cinta akan terasa manis jika cinta yang kita berikan kepada seseorang dibalas dengan sepenuh hati. Ada juga kalanya kita menanggung kesedihan, ketika orang yang kita sayangi malah berpaling dari kita. Cinta itu pahit. Saat kita mengukuhkan jatuh cinta pada seseorang, saat itu juga kita menanggung kebencian. Ngga semua cinta dapat diterima secara gampang dan gamblang. Ada orang yang berkali-...

I Miss My Grandpaa :(

Aku merindukannya. Sesosok pria berbadan tegap walau agak membungkuk karena dimakan usia. Orang paling sabar yang telah aku kenal. Selalu sabar saat aku meminta ini-itu, mainan, jajanan, segala macam yang selalu ia penuhi tanpa ba bi bu. Selalu sabar menungguiku selesai bersekolah di taman kanak-kanak. Selalu tersenyum ketika aku mengganggunya saat beliau tengah tidur siang maupun tengah menonton televisi. Selalu menemaniku saat aku memintanya mengantarku untuk berjalan-jalan. Selalu menenangkanku dikala aku menangis ketika aku dibentak ibu. Selalu berlindung dibelakangnya ketika aku dikejar bebek. Aku selalu mengaguminya. Mengagumi setiap ucapannya. Mengagumi penampilannya yang sederhana. Aku selalu bangga menceritakannya di depan teman-teman kecilku dulu. menceritakan betapa seringnya beliau menggendongku di punggungnya yang menbungkuk. Aku selalu bangga kepadanya, yang hanya menyayangi satu wanita hingga sisa hidupnya. Begitu bodohnya aku pernah tak menghiraukan panggila...