Pulang
Aku menulis ini melalui ponsel pintar yang lebih tepatnya membuat di empunya berubah menjadi autis. Ansos. Atau apalah yang orang lain sebutkan.
Aku dalam perjalanan pulang, sayang. Menuju ke sebuah tempat yang kusebut rumah. Bukan. Bukan sebuah rumah untuk hati. Belumkah kau tau, kalau hatiku telah memiliki tempatnya pulang di dirimu? Namun, sayang, meskipun kau belum mengetahuinya, itu tak akan membuatku mencari rumah lain yang lebih nyaman. Taukah kau sayang, aku menemukan rumah ini tanpa terduga, aku menemukannya dibalik lensa yang selalu menutupi mata beningmu. Ya, beruntunglah aku, karena tiap bertemu denganmu, kau tak pernah melupakan lensa kotak berbingkai hitam yang selalu bertengger di puncak hidung mancungmu. Hingga aku dapat menahan diri untuk tidak terhisap dalam tatapanmu yang begitu mempesonaku. Ah, aku tak mencoba memujimu dengan sepenggal tulisan yang tak beraturan ini, sayang. Aku hanya menuliskan sebuah kejujuran yang harus kau lihat.
Ah, kan, aku selalu menjadi melankolis dan puitis ketika menulis segala sesuatu tentangmu.
Padahal aku hanya ingin bercerita, tentang hal yang entah mengapa malam ini tiba-tiba terbesit gila dalam anganku .
Aku hanya sedang duduk bersandar pada jendela disampingku, menatap bulan baru yang jingga dengan bintang yang tersebar di sekelilingnya. Mungkin ini efek pendingin udara yang tak mau berkompromi denganku malam ini.
Tiba-tiba aku memimpikan sebuah perjalanan. Sebuah perjalanan yang hanya terdapat kita didalamnya.
Bagaimana denganmu? Setujukah engkau, sayang?
Lalu aku membayangkan kita berdua ribut dengan pilihan kita masing-masing. Kau dengan pilihanmu, aku dengan pantai dan konstelasi bintang yang sempurna selepas senja.
Bagaimana kalau Karimun Jawa? Kau belum pernah kesana kan?
Mari kita menghabiskan senja dan menikmati konstelasi bintang yang telah menunggu kita.
Ayolah, sayang, aku menunggu jawabanmu.
Tapi jangan lupa, bawa lensamu agar aku tetap tidak terhisap dalam pusaran matamu.
Rgrd.
Traveler yg sedang jatuh cinta.
Komentar
Posting Komentar