Jogja, antara Politik dan Kebudayaan

Janganlah dulu waktu berlalu
Biar kureguk pesonamu
Lalu melepas beban didada
Kala susuri kota

Setiap waktu kini berpadu
Pada kenangan tak berlalu
Segenap rasa.. dariku trus mengalir
Cinta tanpa Akhir...
Untuk Jogja..
(katon bagaskara – Jogja, cinta tanpa akhir)
Polemik pencabutan Keistimewaan Daerah Yogyakarta sebenarnya tidak akan mempengaruhi tingkat keistimewaan DIY itu sendiri ataupun sektor pariwisatanya. Namun, jika pencabutan status ‘Keistimewaan’ ini, karena pemerintah pusat tidak menyetujui adanya bentuk pemerintahan yang disandang oleh Yogyakarta, tidak akan merubah tingkat “Keistimewaan” Yogyakarta dimata masyarakat Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Dalah hal ini, Yogyakarta di’tuduh’ telah menyelenggarakan sebuah bentuk pemerintahan yang biasa disebut bentuk pemerintahan monarki.

Sebenarnya bukan bentuk pemerintahanya yang monarki, tapi Yogyakarta lebih condong ke arah mempertahankan kebudayaan Jawa, dengan cara, tetap memilih keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono sebagai penerus tahta Kasunanan Yogyakarta sekaligus sebagai Gubernur DIY. Namun beberapa akhir ini, bentuk pemerintahan Yogyakarta yang sedemikian tersebut, menimbulkan polemik pada pemerintah pusat. Dengan dahlil bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara demokrasi, maka segala bentuk pemerintahan monarki akan dihapuskan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bisa saja, beberapa tahun yang akan datang pemerintah pusat akan menetapkan PEMILU untuk menentukan pemimpin Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun, menurut saya, percuma juga jika diadakan PEMILU untuk menentukan pemimpin DIY, jika rakyat Yogyakarta kadung percaya, dan tetap menghendaki penerus Sri Sultan Hamengkubuwono yang selanjutnya untuk menjadi Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan kata lain ; hanya akan ada satu calon tunggal, yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono, otomatis, pemerintah akan kembali dipegang oleh keturunan Keraton. Bila sudah begini, apa yang dapat dilakukan pemerintah kita? Apa pemerintah akan membatalkan hasil PEMILU tersebut, dan memilih calon yang ditetapkan olehnya? Bukankah itu malah membuat bentuk pemerintahan kita menjadi TIRANI? bentuk pemerintahan yang lebih buruk daripada monarki. Bentuk pemerintahan dimana pemimpin negara bertindak semena-mena, seenak hatinya sendiri, dan memerintah untuk kepentingan dirinya sendiri, apakah ini yang disebut Demokrasi? Sekarang pertanyaan saya : “jika suatu daerah, dipimpin oleh seorang penguasa tunggal, dan penguasa tunggal tersebut telah dihendaki rakyat, apa bentuk pemerintahan daerah tersebut masih disebut monarki? Padahal, rakyat telah menyerahkan segala kekuasaan, mulai dari masalah politik, masalah ekonomi hingga masalah pariwisata daerah itu kepada seorang pemimpin tunggalnya. Apa salah jika daerah itu tetap mempertahankan salah satu unsur kebudayaannya?”

Jika pemerintah pusat masih tetap kokoh pada pendirian mereka untuk mengadakan PEMILU pada masa jabatan Gubernur DIY yang akan datang, itu semua hanya membuang tenaga, pikiran dan biaya. Karena, rakyat Yogyakarta, mungkin tidak menghendaki adanya kepala daerah yang lain dari Sri Sultan Hamengkubuwono. Terbukti, bahwa pemerintahan yang di kepalai oleh Sri Sultan Hamengkubuwono membuat kota Yogyakarta lebih maju, dengan menjadi salah satu penyumbang “hasil devisa pariwisata” terbesar di Indonesia, setelah Bali mungkin. Menjadi kota yang sarat akan budaya, keramah-tamahan, dan menjadi Ikon Pelajar di Indonesia.

Bukannya saya mencari-cari celah untuk menjatuhkan pidato Presiden tempo hari, tapi saya hanya memberi pendapat, jika penghapusan status Keistimewaan Yogyakarta tetap dilakukan, itu semua tidak akan membuat Yogyakarta sepi akan turis domestik maupun mancanegara, malah bisa saja, jogja akan semakin ramai oleh para pengunjung yang penasaran, seberapa Istimewanya Yogyakarta dimata masyarakatnya. Dan saya yakin Keistimewaan Yogyakarta tidak akan hilang hanya dengan adanya Referendum tendang Yogyakarta. Karena, keistimewaan Yogyakarta tidak hanya diukur dari Referendum Yogyakarta itu sendiri, tetapi keistimewaan Yogyakarta akan tercipta dari setiap hati dan pikiran kita tentang kecintaan kita akan budayanya, kecintaan kita akan tempat-tempat eksotisnya, kecintaan kita akan pesona alamnya, kecintaan kita akan jajanan kulinernya, dan yang tak kalah penting kecintaan kita terhadap Kota Yogyakarta itu sendiri...

SAYA CINTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA!

        Gumregah merapi anyundul langit
        Padhang mbulan ing candhi Prambanan
        Keraton pusering budhi
        Candhik ayu ing segara kidul
Membekas , jejakku di pantai berpasir..
Deru parang tritis memanggil..
Sekian lama merebut hidup tanpa akhir..
Saatnya kumanja nurani..
        Ada haru disela ombakmu..
        Gamelan lirih melenakan kalbu..
(ana rasa trenyuh kapit ombak ira..
Gamelan rep anyirep ati..)
Termangu kudisitu..
Asyik terpukau
Lalu-lalang orang dijalan
Ramai sepeda beriringan
Senyum menawan
Wajah ramah memberi salam
Hati terhanyut damai tentram
        Anggun gemulai sang dewi  penari
        Bawa cerita putri di taman sari
        (merak ati sang dewi kang luwes ambarekso
        Ambabar caritaning putri ing tamansari)
        Betapa mesranya budaya menyapa
Janganlah dulu waktu berlalu
Biar kureguk pesonamu
Lalu melepas beban didada
Kala susuri kota
        Setiap waktu kini berpadu
        Pada kenangan tak berlalu
        Segenap rasa dariku trus mengalir
        CINTA TANPA AKHIR
        UNTUK JOGJA
Kutitip rindu dibangunan tua
Romansa Jawa membuai tak terasa
Betapa lugunya budaya menyapa
        Sapa kang tetirah ing Ngayogya
        Rasa tentrem angelus nala
        Bumi saya prasaja..
                                *Katon Bagaskara : Jogja, Cinta Tanpa Akhir....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Life After You

MakerAp (Sebuah Kelas, Sebuah Cerita)

Kini, Aku Menemukanmu...