Our School
Sekolahku tidak seperti sekolah-sekolah lain di kota-kota besar. Sekolah yang modern, dengan sarana yang sangat amat memadai. Bisa dikatakan sekolahku agak tertinggal dari sekolah-sekolah rintisan lainnya.
Sekolahku tak memiliki kelas yang bisa dikatakan bagus. Satu-satunya kelas yang bisa dikatakan lumayan adalah kelas XII bahasa yang termasuk dalam bangunan baru. Lainnya? Bisa dikatakan setengah layak, dengan kelas-kelas yang bocor saat hujan tiba. Papan tulis yang sudah kusam dimakan usia. Lantai yang kotor, kusam, buram. Dan jendela yang sebagian nakonya telah menghilang.
Sekolahku tak memiliki Laboratorium Bahasa. Hanya memiliki sebuah Laboratorium Kimia yang sering digunakan kelas oleh pihak guru. Kami hanya memiliki sebuah Laboratorium Komputer yang beberapa komputernya sudah tak layak pakai.
Sekolah kami tak mempunya sarana olahraga yang cukup memadai. Lapangan basket kami pun dipagari dengan pagar kawat yang sudah bolong di berbagai sudut. Bahkan kami mengecat sendiri lapangan kami jika akan diadakan event-event basketball di sekolah kami. lapangan sepak bola kami dipenuhi rumput-rumput yang mulai memanjang. Dengan pohon-pohon yang merangas di sisi-sisi lapangan. Dengan tanah yang becek dikala hujan.
Sekolah kami tak memiliki perpustakaan yang penuh dengan ensiklopedia dan novel-novel terbitan terbaru. Perpustakaan kami hanya dipasangi dengan sebuah kipas angin tua di atasnya.
Intinya kebanyakan spot di sekolahku harus diperbaiki. Harus di atur ulang. Harus direnov.
Namun dibalik itu, kami punya kenangan tersendiri di sekolah itu. Kenangan yang akan kami kisahkan kepada cucu-cucu kami. tantang bagaimana sederhananya sekolah kami, bagaimana kami sering meraih prestasi ditengah kesederhanaan tersebut.
Kami sering menjuarai lomba gerak jalan di daerah kami, memenangi lomba debat bahasa inggris, memenangi berbagai lomba untuk kalangan pelajar.
Memang sekolah kami tak pernah mengadakan acara-acara besar seperti memperingati HUT sekolah kami. namun, kami tetap gembira, dengan disuguhi pentas musik sederhana dari karya-karya terbaik siswa-siswi di sekolah kami.
Memang sekolah kami selalu bocor saat musim hujan. Namun, dengan itu, kami selalu dapat menghangatkan satu-sama lain. Merapatkan meja dan bangku –bangku kami, saling berbagi cerita, pengalaman, dan kisah-kisah menarik kami. itulah yang menjadikan kami dekat. Bahkan sangat dekat.
Memang sekolah kami tak mempunyai sarana olah raga yang memadai. Namun dengan lapangan sepak bola yang selalu becek saat hujan, itu malah menyenangkan hati kami. berlarian dibawah hujan, bercanda tawa selagi kami masih bisa bersama satu sama lain. Terjatuh di genangan lumpur, tertawa seakan hujan adalah anugerah terbesar untuk kami.
Memang sekolah kami tak mempunyai perpustakaan yang lengkap dengan buku-buku terbaru. Namun, dibalik itu, perpustakaan kami tak pernah sepi oleh siswa-siswi. Ada yang berdiskusi tentang pelajaran, melukis disana, merenung, membaca buku-buku yang menurut kami terlalu usang.
Memang sekolah kami tak memiliki laboratorium bahasa. Namun dengan kreatifitas guru bahasa kami, kami tak pernah merasa jenuh dengan hanya mendengarkan. Guru kami sering menyelingi pelajaran dengan cerita-cerita lucu, cerita masa muda beliau, saat beliau tengah sekolah.
Memang sekolah kami bisa dikatakan agak tertinggal dari sekolah-sekolah modern di tempat lain. Namun, kami tak pernah merasa individual. Kami selalu berbagi. Menolong teman kami yang tak mahir dalam pelajaran. Saling bergotong royong membersihkan kelas-kelas kami.
Sekolah kami telah memberikan beribu-ribu kenangan yang tak pernah kami dapat di sekolah manapun. Kenangan akan kawan yang selau setia. Kenangan akan guru-guru kami yang selau mendukung kami. kenangan akan karyawan-karyawan sekolah kami yang selalu menyapa kami, selalu bersenda gurau dengan kami tampa memandang siapa dia dalam ekosistim sekolah kami. kenangan akan berbagai jajanan kantin kami yang sederhana. Tak ada cafe, tak ada meja-meja kecil. Yang ada hanya tiga warung yang tersekat oleh selelmbar kain, dan beberapa meja kayu panjang dan kursi kayu panjang.
Sekolah kami memiliki andil yang besar terhadap masa depan kami. dari nilai yang terus turun drastis di semester pertama, dari ranking terakhir di semester kedua, menjadi ranking tiga besar di semester keempat.
Memang sekolah kami tak memiliki fasilitas-fasilitas moderen layaknya sekolah-sekolah di kota. Hanya hamparan gunung yang dapat dilihat dari lapangan sepak bola sekolah kami. dengan semilir angin yang menyejukkan, dengan berbagai suara hewan-hewan kecil disekeliling sekolah kami.
Namun itulah views yang disajikan sekolah kami. itulah keasrian yang disajikan sekolah kami. dan itu pula, sebenarnya sudah cukup bagi kami.
Karena disini, kami menemukan arti persahabatan, persaudaraan, dan kasih sayang sesama siswa-siswi. Dan disini juga kami dapat megejar dan meraih cita-cita kami.
Terimakasih teman, guru, karyawan, kelas yang kusam. Semuanya memberikan seribu satu kenangan yang tetap bersemayan di hati.
Untuk Almamaterku : SMA Negeri 1 Bangsri
Sekolahku tak memiliki kelas yang bisa dikatakan bagus. Satu-satunya kelas yang bisa dikatakan lumayan adalah kelas XII bahasa yang termasuk dalam bangunan baru. Lainnya? Bisa dikatakan setengah layak, dengan kelas-kelas yang bocor saat hujan tiba. Papan tulis yang sudah kusam dimakan usia. Lantai yang kotor, kusam, buram. Dan jendela yang sebagian nakonya telah menghilang.
Sekolahku tak memiliki Laboratorium Bahasa. Hanya memiliki sebuah Laboratorium Kimia yang sering digunakan kelas oleh pihak guru. Kami hanya memiliki sebuah Laboratorium Komputer yang beberapa komputernya sudah tak layak pakai.
Sekolah kami tak mempunya sarana olahraga yang cukup memadai. Lapangan basket kami pun dipagari dengan pagar kawat yang sudah bolong di berbagai sudut. Bahkan kami mengecat sendiri lapangan kami jika akan diadakan event-event basketball di sekolah kami. lapangan sepak bola kami dipenuhi rumput-rumput yang mulai memanjang. Dengan pohon-pohon yang merangas di sisi-sisi lapangan. Dengan tanah yang becek dikala hujan.
Sekolah kami tak memiliki perpustakaan yang penuh dengan ensiklopedia dan novel-novel terbitan terbaru. Perpustakaan kami hanya dipasangi dengan sebuah kipas angin tua di atasnya.
Intinya kebanyakan spot di sekolahku harus diperbaiki. Harus di atur ulang. Harus direnov.
Namun dibalik itu, kami punya kenangan tersendiri di sekolah itu. Kenangan yang akan kami kisahkan kepada cucu-cucu kami. tantang bagaimana sederhananya sekolah kami, bagaimana kami sering meraih prestasi ditengah kesederhanaan tersebut.
Kami sering menjuarai lomba gerak jalan di daerah kami, memenangi lomba debat bahasa inggris, memenangi berbagai lomba untuk kalangan pelajar.
Memang sekolah kami tak pernah mengadakan acara-acara besar seperti memperingati HUT sekolah kami. namun, kami tetap gembira, dengan disuguhi pentas musik sederhana dari karya-karya terbaik siswa-siswi di sekolah kami.
Memang sekolah kami selalu bocor saat musim hujan. Namun, dengan itu, kami selalu dapat menghangatkan satu-sama lain. Merapatkan meja dan bangku –bangku kami, saling berbagi cerita, pengalaman, dan kisah-kisah menarik kami. itulah yang menjadikan kami dekat. Bahkan sangat dekat.
Memang sekolah kami tak mempunyai sarana olah raga yang memadai. Namun dengan lapangan sepak bola yang selalu becek saat hujan, itu malah menyenangkan hati kami. berlarian dibawah hujan, bercanda tawa selagi kami masih bisa bersama satu sama lain. Terjatuh di genangan lumpur, tertawa seakan hujan adalah anugerah terbesar untuk kami.
Memang sekolah kami tak mempunyai perpustakaan yang lengkap dengan buku-buku terbaru. Namun, dibalik itu, perpustakaan kami tak pernah sepi oleh siswa-siswi. Ada yang berdiskusi tentang pelajaran, melukis disana, merenung, membaca buku-buku yang menurut kami terlalu usang.
Memang sekolah kami tak memiliki laboratorium bahasa. Namun dengan kreatifitas guru bahasa kami, kami tak pernah merasa jenuh dengan hanya mendengarkan. Guru kami sering menyelingi pelajaran dengan cerita-cerita lucu, cerita masa muda beliau, saat beliau tengah sekolah.
Memang sekolah kami bisa dikatakan agak tertinggal dari sekolah-sekolah modern di tempat lain. Namun, kami tak pernah merasa individual. Kami selalu berbagi. Menolong teman kami yang tak mahir dalam pelajaran. Saling bergotong royong membersihkan kelas-kelas kami.
Sekolah kami telah memberikan beribu-ribu kenangan yang tak pernah kami dapat di sekolah manapun. Kenangan akan kawan yang selau setia. Kenangan akan guru-guru kami yang selau mendukung kami. kenangan akan karyawan-karyawan sekolah kami yang selalu menyapa kami, selalu bersenda gurau dengan kami tampa memandang siapa dia dalam ekosistim sekolah kami. kenangan akan berbagai jajanan kantin kami yang sederhana. Tak ada cafe, tak ada meja-meja kecil. Yang ada hanya tiga warung yang tersekat oleh selelmbar kain, dan beberapa meja kayu panjang dan kursi kayu panjang.
Sekolah kami memiliki andil yang besar terhadap masa depan kami. dari nilai yang terus turun drastis di semester pertama, dari ranking terakhir di semester kedua, menjadi ranking tiga besar di semester keempat.
Memang sekolah kami tak memiliki fasilitas-fasilitas moderen layaknya sekolah-sekolah di kota. Hanya hamparan gunung yang dapat dilihat dari lapangan sepak bola sekolah kami. dengan semilir angin yang menyejukkan, dengan berbagai suara hewan-hewan kecil disekeliling sekolah kami.
Namun itulah views yang disajikan sekolah kami. itulah keasrian yang disajikan sekolah kami. dan itu pula, sebenarnya sudah cukup bagi kami.
Karena disini, kami menemukan arti persahabatan, persaudaraan, dan kasih sayang sesama siswa-siswi. Dan disini juga kami dapat megejar dan meraih cita-cita kami.
Terimakasih teman, guru, karyawan, kelas yang kusam. Semuanya memberikan seribu satu kenangan yang tetap bersemayan di hati.
Untuk Almamaterku : SMA Negeri 1 Bangsri
Komentar
Posting Komentar