Namaku Caesar - 1
Aku terlahir dan besar dikeluarga sederhana. Ayahku seorang pensiunan Jendral dan ibuku seorang pengusaha catering terkenal di kotaku. Aku terlahir dengan nama Caesar Pratama. Lahir dihari pertama bulan Januari, pada jam satu dini hari.
Sejak kecil aku selalu dilatih untuk menjadi seorang tentara oleh ayahku. Awalnya aku fine-fine saja dengan perlakuan ayah terhadapku. Namun, lama-kelamaan, aku merasakan ketidakcocokan menjadi seorang jendral berpangkat Letnan seperti ayah. Aku lebih suka menghitung pemasukan dan pengeluaran catering Ibu. Kata ibu aku berbakat menjadi seorang Ahli Ekonomi.
Akhirnya aku berterus terang kepada ayah tentang ketidakcocokanku untuk menjadi seorang Jendral. Aku- yang waktu itu berumur sepuluh tahun, takut jika ayahku mengusirku dari rumah jika aku tak meneruskan cita-cita ayahku, seperti ayah yang mendiktaktor anaknya. Namun, ketakutanku memudar seiring seulas senyum yang hinggap di bibir ayah dan sebuah tepukan hangat di pundakku.
"Kejarlah cita-citamu, nak. Ayah hanya mengajarkan kedisiplinan kepadamu, dan tak bermaksud memasukkanmu kedalam program Militer, kecuali jika kau benar-benar menyukainya."
Aku tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putihku yang rapi, berdiri lalu memeluk ayah.
Aku melangkah keluar perpustakaan kampus, setelah mendapatkan refrensi untuk tugas semesteran. Aku melewati papan pengumuman nilai semester dan berdiri disana untuk mencari nama dan nilaiku.
Nama : Caesar Pratama
Jurusan : Ekonomi Murni
Dosen Wali : Dra. Wulan Retno
NIM : 140300320012
Nilai : A
IP : 3.75
Aku tersenyum begitu melihat papan pengumuman. Cumlaude lagi. Aku mengambil ponsel dan segera menghubungi Ibu.
"Assalamu'alaikum. Ibu? Nilaiku sudah keluar bu, cumlaude lagi." kataku sambil agak berbisik-bisik. Beberapa mahasiswa bahkan melirikku sinis saat aku mengucapkan kata 'Cumlaude Lagi'
"Waalaikumsalam. Alhamdulilah nak. Trus, gimana sama beasiswa kamu? Jadi ngambil?"
"Insya Allah, bu. Tinggal nyelesain Essay, ngambil transkip nilai, minta tanda tangan dosen wali, trus ngajuin ke Dekan. Ibu Doain Caesar ya."
"Iya nak. Pasti ibu doakan kamu. Belajar yang sungguh-sungguh ya nak. Hati-hati, Jogja pergaulannya udah ngeri, nggak kaya jaman Ibu sama Ayahmu dulu." pesan Ibu was-was.
"Iya, Bu. Aku Paham. Aku janji ngga akan mengecewakan Ibu. Ya Sudah, Bu. aku masih ada kuliah lagi. Ibu jaga kesehatan, ya. Salam buat Ayah. Assalamualaikum."
"Hati-hati nak. Waalaikumsalam"
Bersambung..
Sejak kecil aku selalu dilatih untuk menjadi seorang tentara oleh ayahku. Awalnya aku fine-fine saja dengan perlakuan ayah terhadapku. Namun, lama-kelamaan, aku merasakan ketidakcocokan menjadi seorang jendral berpangkat Letnan seperti ayah. Aku lebih suka menghitung pemasukan dan pengeluaran catering Ibu. Kata ibu aku berbakat menjadi seorang Ahli Ekonomi.
Akhirnya aku berterus terang kepada ayah tentang ketidakcocokanku untuk menjadi seorang Jendral. Aku- yang waktu itu berumur sepuluh tahun, takut jika ayahku mengusirku dari rumah jika aku tak meneruskan cita-cita ayahku, seperti ayah yang mendiktaktor anaknya. Namun, ketakutanku memudar seiring seulas senyum yang hinggap di bibir ayah dan sebuah tepukan hangat di pundakku.
"Kejarlah cita-citamu, nak. Ayah hanya mengajarkan kedisiplinan kepadamu, dan tak bermaksud memasukkanmu kedalam program Militer, kecuali jika kau benar-benar menyukainya."
Aku tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putihku yang rapi, berdiri lalu memeluk ayah.
Aku melangkah keluar perpustakaan kampus, setelah mendapatkan refrensi untuk tugas semesteran. Aku melewati papan pengumuman nilai semester dan berdiri disana untuk mencari nama dan nilaiku.
Nama : Caesar Pratama
Jurusan : Ekonomi Murni
Dosen Wali : Dra. Wulan Retno
NIM : 140300320012
Nilai : A
IP : 3.75
Aku tersenyum begitu melihat papan pengumuman. Cumlaude lagi. Aku mengambil ponsel dan segera menghubungi Ibu.
"Assalamu'alaikum. Ibu? Nilaiku sudah keluar bu, cumlaude lagi." kataku sambil agak berbisik-bisik. Beberapa mahasiswa bahkan melirikku sinis saat aku mengucapkan kata 'Cumlaude Lagi'
"Waalaikumsalam. Alhamdulilah nak. Trus, gimana sama beasiswa kamu? Jadi ngambil?"
"Insya Allah, bu. Tinggal nyelesain Essay, ngambil transkip nilai, minta tanda tangan dosen wali, trus ngajuin ke Dekan. Ibu Doain Caesar ya."
"Iya nak. Pasti ibu doakan kamu. Belajar yang sungguh-sungguh ya nak. Hati-hati, Jogja pergaulannya udah ngeri, nggak kaya jaman Ibu sama Ayahmu dulu." pesan Ibu was-was.
"Iya, Bu. Aku Paham. Aku janji ngga akan mengecewakan Ibu. Ya Sudah, Bu. aku masih ada kuliah lagi. Ibu jaga kesehatan, ya. Salam buat Ayah. Assalamualaikum."
"Hati-hati nak. Waalaikumsalam"
Bersambung..
Komentar
Posting Komentar