Writter's Block
Malam ini saya hanya ditemani sama twitter, facebook, radio Pro Alma Undip. Galau? Enggak sih, cuma lagi ngalamin hal paling menyebalkan yang tiba-tiba menyerang saat berhadapan dengan layar blank ms. Word. Writter’s Block. Banyak penulis yang mungkin sering mengalami Writter’s Block, bahkan saat sibuk-sibuknya menyelesaikan deadline naskah.
Sebenernya apa sih writter’s block itu sendiri? Writters Block adalah keadaan dimana seorang author merasa buntu dalam menyusun kata perkata yang pas sehingga akan terbentuk kalimat yang enak dibaca. Dengan kata lain Writter’s Block artinya kebuntuan seseorang untuk mendapatkan gambaran apa yang akan ditulisnya, entah gambaran jalan cerita, setting, hingga kadang ending yang kurang beberapa paragraf.
Awalnya saya menganggap Writter’s Block adalah omong kosong belaka, hanya sebatas bualan para penulis karena sedang nggak pengen keluar dari zona nyaman, atau zona kesantaiannya. Namun, dari beberapa pengalaman, termasuk pengalaman sendiri, kebuntuan dalam menentukan berbagai aspek dalam artikel ataupun calon naskah kita memang ada, bahkan sering terjadi di dunia kepenulisan. Ide-ide yang tadi bermunculan, sehingga membuat mood untuk menulis semakin kuat, tiba-tiba hilang ketika kita mulai mengetikkan kata perkata pada layar komputer kita.
Kebuntuan dalam menulis dan mencari ide-ide atau istilah kepenulisannya Writter’s Block ternyata lebih sering mengganggu orang-orang yang menggunakan hobi menulis sebagai pekerjaan, atau sering disebut orang full-time writter. Memang orang yang pekerjaannya full-time writter lebih banyak menghabiskan waktu mereka untuk menulis. Entah itu untuk mengisi waktu senggang mereka, atau mengejar deadline yang sudah ditagih oleh editor. Namun terkadang pikiran mereka buntu yang ber akibat tidak berkesinambungannya kalimat per kalimat yang dihasilkan oleh pikiran mereka.
Sebenarnya ada untung dan rugi tersendiri untuk menjadi seorang full-time writter. Untungnya, selain kita bisa menekuni dan mengembangkan hobi kita, kita juga dapat mendapat pendapatan dari hobi yang kita kerjakan itu. Tapi ruginya, kita terkadang nggak bisa bekerja dengan hati saat dikejar-kejar deadline, atau kata lain : yang penting selesai. Apalagi kalo editor kesayangan kita sudah mulai melancarkan serangan menarikan atau penagihan naskah. Bisa-bisa kita ngambek dan merajuk agar diberikan tambahan waktu dari editor.
Bagi part-time writter, kita bisa bekerja sesuai mood kita, sesuai inspirasi yang terkadang datangnya tidak bisa kita tebak, atau datang melalui ide-ide yang betebaran disekeliling kita. Karena bagi saya ketiga komponen tersebut sangat mendukung untuk penulisan naskah yang baik. Ditambah segelas teh hangat dan suasana hujan tentunya.
Well, menghadapi kedua bentuk penulis diatas, saya telah memilih pilihan saya, yaitu sebagai part-time writter, melihat pada mood, ide, dan inspirasi saya yang datangnya “kadang-kadang” dan sering mengalami “mood-swing” akut, yang tentunya sesuai pengalaman saya, berhasil dengan sukses merusak suasana hati saya seharian penuh. Dan juga karena saya pecinta senja dan hujan, saya lebih sering menulis pada saat senja atau hujan, atau bisa juga diselingi dengan musik kesukaan saya.
Part-time writter juga membantu saya untuk bertanggung jawab terhadap tugas-tugas kuliah saya. Kalau tugas kuliah selesai, menulis pun seperti tanpa halangan, dan jari-jari yang serasa bergerak sendiri diatas papan-papan abjad.
Kira-kira begitulah pendapat saya mengenai Full-time dan juga Part-time writter. Apapun yang menjadi pilihan anda, jangan mau terkalahkan dengan yang namanya Writter’s Block.
Oke, karena baterai laptop yang mulai menguning, mata yang meredup perlahan, baterai handphone yang mulai merah, teh panas yang telah habis sedari tadi, musik laptop yang sudah berhenti , serta perkuliahan besok yang seharian penuh (FYI dari jam 8.40 sampai 18.40), saya akhiri saja tulisan saya kali ini. Terimakasih telah menyimak sepenggal pengalaman dan pendapat saya kali ini. Salam.
Merci, Arigatou Gozaimasu, Gracias..
Au Revoir, Sayonara, Aidos..
Sebenernya apa sih writter’s block itu sendiri? Writters Block adalah keadaan dimana seorang author merasa buntu dalam menyusun kata perkata yang pas sehingga akan terbentuk kalimat yang enak dibaca. Dengan kata lain Writter’s Block artinya kebuntuan seseorang untuk mendapatkan gambaran apa yang akan ditulisnya, entah gambaran jalan cerita, setting, hingga kadang ending yang kurang beberapa paragraf.
Awalnya saya menganggap Writter’s Block adalah omong kosong belaka, hanya sebatas bualan para penulis karena sedang nggak pengen keluar dari zona nyaman, atau zona kesantaiannya. Namun, dari beberapa pengalaman, termasuk pengalaman sendiri, kebuntuan dalam menentukan berbagai aspek dalam artikel ataupun calon naskah kita memang ada, bahkan sering terjadi di dunia kepenulisan. Ide-ide yang tadi bermunculan, sehingga membuat mood untuk menulis semakin kuat, tiba-tiba hilang ketika kita mulai mengetikkan kata perkata pada layar komputer kita.
Kebuntuan dalam menulis dan mencari ide-ide atau istilah kepenulisannya Writter’s Block ternyata lebih sering mengganggu orang-orang yang menggunakan hobi menulis sebagai pekerjaan, atau sering disebut orang full-time writter. Memang orang yang pekerjaannya full-time writter lebih banyak menghabiskan waktu mereka untuk menulis. Entah itu untuk mengisi waktu senggang mereka, atau mengejar deadline yang sudah ditagih oleh editor. Namun terkadang pikiran mereka buntu yang ber akibat tidak berkesinambungannya kalimat per kalimat yang dihasilkan oleh pikiran mereka.
Sebenarnya ada untung dan rugi tersendiri untuk menjadi seorang full-time writter. Untungnya, selain kita bisa menekuni dan mengembangkan hobi kita, kita juga dapat mendapat pendapatan dari hobi yang kita kerjakan itu. Tapi ruginya, kita terkadang nggak bisa bekerja dengan hati saat dikejar-kejar deadline, atau kata lain : yang penting selesai. Apalagi kalo editor kesayangan kita sudah mulai melancarkan serangan menarikan atau penagihan naskah. Bisa-bisa kita ngambek dan merajuk agar diberikan tambahan waktu dari editor.
Bagi part-time writter, kita bisa bekerja sesuai mood kita, sesuai inspirasi yang terkadang datangnya tidak bisa kita tebak, atau datang melalui ide-ide yang betebaran disekeliling kita. Karena bagi saya ketiga komponen tersebut sangat mendukung untuk penulisan naskah yang baik. Ditambah segelas teh hangat dan suasana hujan tentunya.
Well, menghadapi kedua bentuk penulis diatas, saya telah memilih pilihan saya, yaitu sebagai part-time writter, melihat pada mood, ide, dan inspirasi saya yang datangnya “kadang-kadang” dan sering mengalami “mood-swing” akut, yang tentunya sesuai pengalaman saya, berhasil dengan sukses merusak suasana hati saya seharian penuh. Dan juga karena saya pecinta senja dan hujan, saya lebih sering menulis pada saat senja atau hujan, atau bisa juga diselingi dengan musik kesukaan saya.
Part-time writter juga membantu saya untuk bertanggung jawab terhadap tugas-tugas kuliah saya. Kalau tugas kuliah selesai, menulis pun seperti tanpa halangan, dan jari-jari yang serasa bergerak sendiri diatas papan-papan abjad.
Kira-kira begitulah pendapat saya mengenai Full-time dan juga Part-time writter. Apapun yang menjadi pilihan anda, jangan mau terkalahkan dengan yang namanya Writter’s Block.
Oke, karena baterai laptop yang mulai menguning, mata yang meredup perlahan, baterai handphone yang mulai merah, teh panas yang telah habis sedari tadi, musik laptop yang sudah berhenti , serta perkuliahan besok yang seharian penuh (FYI dari jam 8.40 sampai 18.40), saya akhiri saja tulisan saya kali ini. Terimakasih telah menyimak sepenggal pengalaman dan pendapat saya kali ini. Salam.
Merci, Arigatou Gozaimasu, Gracias..
Au Revoir, Sayonara, Aidos..
Komentar
Posting Komentar