Sepotong Senja di Pantai Kartini (#CeritaCintaKota
Dimulai dari pertemuan pertamaku dengannya disuatu senja di pantai Kartini. Ia begitu serius dengan buku sketsanya, saat aku diam-diam mengambil potretnya.
Pertemuan berikutnya yang mengkagetkan. Dia, ternyata teman dekat dari Mas Edo, kakak sepupuku. Hal ini membuatku menjadi dekat dengannya. Seakan kami sepasang sahabat lama yang berjumpa kembali. Entahlah mengapa, aku tak pernah sedekat ini dengan lelaki manapun yang baru kukenal.
Berlanjut dengan pertemuan-pertemuan selanjutnya yang telah direncanakan dengan matang oleh Tuhan. Kebersamaan yang tak dapat dielakkan, hingga aktifitas-aktifitas yang mau tidak mau mengakibatkan keterlibatan kami berdua.
Pertemuan kami terbilang singkat. Saat ia melakukan sebuah penelitian tentang kebudayaan dan karya seni khas kotaku, Jepara. Aku yang selalu mendampinginya kemanapun ia memintaku. Berjalan-jalan dishowroom meubel yang berjajar rapi sepanjang jalan utama yang menghubungkan kabupeten Jepara dan kabupaten Kudus. Menemaninya melihat hasil kerajinan kain masyarakat desa Troso. Hingga menemaninya menjelajah desa-desa kecil yang berujung di air terjun songgo langit.
Sementara dia, menemaniku dengan aktifitas pengamatanku. Membantuku membawa dan menyusun teropong bintangku di tempatnya. Menemaniku mencari objek menarik yang bisa ku potret.
Kesukaan kami akan pantai dan senja membuat kami bisa duduk sepanjang sore di tepian dermaga Pantai Kartini, tempat pertama kali kami bertemu. Ditemani dengan semangkuk Adon-adon coro hangat yang biasa dijajakan oleh pedagang-pedagang yang berada disekitar objek wisata ini. Biasanya kami bercanda di ayunan dekat replika kura-kura raksasa, berfoto didepannya, atau pernah sekali memasuki bangunan yang merupakan sebuah aquarium air laut itu.
Kami mempunyai spot favofit di pantai ini. Di tepian dermaga dan di pendopo kecil yang mengapung di tengah laut. Bercanda. Bercerita apapun yang dapat diceritakan. Kadang kami hanya duduk dan bercerita sembari menunggu Sang Surya kembali ke selimut cakrawalanya. Terkadang pula, kamu berjalan-jalan menyusuri pinggiran pantai. Dari ujung, ke ujung.
Bersamanya seakan menemukan pribadiku yang lain dalam bentuk laki-laki. Banyak persamaan diantara kami.
- Kami sering mengabadikan moment. meski dengan media yang berbeda. dia dengan pensil dan kertasnya, sedang aku dengan lensaku.
- Kami suka pantai dan senja
- Kami suka Coldplay
- Kami sama-sama suka tantangan
- dan Kami sama-sama suka wisata kuliner.
Namun, bukankah kebanyakan pertemuan terdapat perpisahan yang telah direncanakan Tuhan? Perpisahan yang bisa terjadi setiap saat, kapan saja. Mungkin, bagi dia aku hanya sekilas musim panasnya. Mungkin aku yang berharap lebih denganya. Mungkin aku yang selalu mengira-ngira bahwa ia mempunyai perasaan yang sama. Perasaan yang muncul saat pertama kali aku bertemu dengannya-di tepi pantai ini.
Ia telah pulang. Berpuluh-puluh senja telah kulewati tanpanya. Menceritakan kesendirianku kepada cakrawala langit, kepada siluet senja, kepada hembusan angin malam, serta pada bintang-bintang diatas sana.
Bertanya-tanya dalam hati, kapan ia akan kembali ke sini. Melewati senja di pantai yang sama. Melewati malam dengan keceriaan anak-anak kecil yang bermain di alun-alun depan kabupaten. Menjelajah pelosok terjauh kota Jepara. Duduk di bebatuan karang di Benteng Portugis. Bercengkrama dengan bapak-bapak penjaja perahu ke Pulau Panjang. Bermain-main air di Pantai Bandengan. Hingga bercanda gurau di studio bersama Mas Edo dan kawan-kawan seniman lainnya.
***
Dipinggir dermaga ini, tempat yang sering kudatangi dengannya, kubuka lembaran buku sketsa yang dititipkannya pada Mas Edo. Lembaran-lembaran itu berkisah tentangku. Sketsa saat pertama kali aku bertemu dengannya. Sketsa dengan rambut yang tertiup angin ketika menikmati senja bersamanya.Saat aku seriusnya mengamati bintang dengan teropongku. Hingga aku yang sedang menopang dagu saat menanti hujan reda.
Sepotong senja di sore ini mengkisahkan pertemuan yang berujung perpisahan. Bolehkah aku berharap kamu akan kembali? Duduk disisiku? dan membuat potongan senja yang pernah kita lakukan bersama? Ingatlah. Disini selalu ada potongan senja yang kau tinggalkan.
Pertemuan berikutnya yang mengkagetkan. Dia, ternyata teman dekat dari Mas Edo, kakak sepupuku. Hal ini membuatku menjadi dekat dengannya. Seakan kami sepasang sahabat lama yang berjumpa kembali. Entahlah mengapa, aku tak pernah sedekat ini dengan lelaki manapun yang baru kukenal.
Berlanjut dengan pertemuan-pertemuan selanjutnya yang telah direncanakan dengan matang oleh Tuhan. Kebersamaan yang tak dapat dielakkan, hingga aktifitas-aktifitas yang mau tidak mau mengakibatkan keterlibatan kami berdua.
Pertemuan kami terbilang singkat. Saat ia melakukan sebuah penelitian tentang kebudayaan dan karya seni khas kotaku, Jepara. Aku yang selalu mendampinginya kemanapun ia memintaku. Berjalan-jalan dishowroom meubel yang berjajar rapi sepanjang jalan utama yang menghubungkan kabupeten Jepara dan kabupaten Kudus. Menemaninya melihat hasil kerajinan kain masyarakat desa Troso. Hingga menemaninya menjelajah desa-desa kecil yang berujung di air terjun songgo langit.
Sementara dia, menemaniku dengan aktifitas pengamatanku. Membantuku membawa dan menyusun teropong bintangku di tempatnya. Menemaniku mencari objek menarik yang bisa ku potret.
Kesukaan kami akan pantai dan senja membuat kami bisa duduk sepanjang sore di tepian dermaga Pantai Kartini, tempat pertama kali kami bertemu. Ditemani dengan semangkuk Adon-adon coro hangat yang biasa dijajakan oleh pedagang-pedagang yang berada disekitar objek wisata ini. Biasanya kami bercanda di ayunan dekat replika kura-kura raksasa, berfoto didepannya, atau pernah sekali memasuki bangunan yang merupakan sebuah aquarium air laut itu.
Kami mempunyai spot favofit di pantai ini. Di tepian dermaga dan di pendopo kecil yang mengapung di tengah laut. Bercanda. Bercerita apapun yang dapat diceritakan. Kadang kami hanya duduk dan bercerita sembari menunggu Sang Surya kembali ke selimut cakrawalanya. Terkadang pula, kamu berjalan-jalan menyusuri pinggiran pantai. Dari ujung, ke ujung.
Bersamanya seakan menemukan pribadiku yang lain dalam bentuk laki-laki. Banyak persamaan diantara kami.
- Kami sering mengabadikan moment. meski dengan media yang berbeda. dia dengan pensil dan kertasnya, sedang aku dengan lensaku.
- Kami suka pantai dan senja
- Kami suka Coldplay
- Kami sama-sama suka tantangan
- dan Kami sama-sama suka wisata kuliner.
Namun, bukankah kebanyakan pertemuan terdapat perpisahan yang telah direncanakan Tuhan? Perpisahan yang bisa terjadi setiap saat, kapan saja. Mungkin, bagi dia aku hanya sekilas musim panasnya. Mungkin aku yang berharap lebih denganya. Mungkin aku yang selalu mengira-ngira bahwa ia mempunyai perasaan yang sama. Perasaan yang muncul saat pertama kali aku bertemu dengannya-di tepi pantai ini.
Ia telah pulang. Berpuluh-puluh senja telah kulewati tanpanya. Menceritakan kesendirianku kepada cakrawala langit, kepada siluet senja, kepada hembusan angin malam, serta pada bintang-bintang diatas sana.
Bertanya-tanya dalam hati, kapan ia akan kembali ke sini. Melewati senja di pantai yang sama. Melewati malam dengan keceriaan anak-anak kecil yang bermain di alun-alun depan kabupaten. Menjelajah pelosok terjauh kota Jepara. Duduk di bebatuan karang di Benteng Portugis. Bercengkrama dengan bapak-bapak penjaja perahu ke Pulau Panjang. Bermain-main air di Pantai Bandengan. Hingga bercanda gurau di studio bersama Mas Edo dan kawan-kawan seniman lainnya.
***
Dipinggir dermaga ini, tempat yang sering kudatangi dengannya, kubuka lembaran buku sketsa yang dititipkannya pada Mas Edo. Lembaran-lembaran itu berkisah tentangku. Sketsa saat pertama kali aku bertemu dengannya. Sketsa dengan rambut yang tertiup angin ketika menikmati senja bersamanya.Saat aku seriusnya mengamati bintang dengan teropongku. Hingga aku yang sedang menopang dagu saat menanti hujan reda.
Sepotong senja di sore ini mengkisahkan pertemuan yang berujung perpisahan. Bolehkah aku berharap kamu akan kembali? Duduk disisiku? dan membuat potongan senja yang pernah kita lakukan bersama? Ingatlah. Disini selalu ada potongan senja yang kau tinggalkan.
Komentar
Posting Komentar