An Unforgettable Moment in My Live
Good Morning, and happy weekend all.
Aku mengetik postingan ini sesaat setelah mengobrak-abrik blog dari penulis favoritku (kepo ya gue), Winna Efendi, dan menemukan postingan tentang giveawaynya yang bertemakan high school memories.
Ngomong-ngomong soal high school memories, aku masih sering membicarakannya dengan teman-teman seperkuliahanku, dan menerima berbagai macam tanggapan. Ada yang bilang high school itu nggak ada istimewanya, ada yang bilang mungkin masa-masa highschoolku terlalu berkesan hingga aku selalu ingat setiap detail yang terjadi didalamnya. Sampai ada yang bilang kalau aku orangnya susah melupakan masa lalu.
Aku bukannya orang yang susah melupakan masa lalu dan hanya terus-terusan meratapinya. Tapi, bagiku, masa lalu yang satu ini adalah sebuah masa yang paling menyenangkan yang pernah kualami selain dengan keluarga sedarahku.
Sebelumnya, izinkan aku untuk bertanya. Tak pernahkah kalian mengalami perasaan berdebar-debar ketika cinta pertama kalian lewat didepan kelas dan tersenyum kepada kalian? Tidakkah kalian mengingat sahabat yang sejalan dan mempunyai misi yang sama dengan kalian? Tak ingatkan tiap liku lorong yang selalu menyapa kalian setiap pagi selama kurang lebih tiga tahun? Tidakkah kalian ingat seluruh ekosistem dalam sekolah yang selalu mendorong kalian untuk sampai di bangku kuliah, separah apapun kelakuan kalian saat itu? Yah. Bagiku, high school tak bisa dilupakan begitu saja. Pasti ada suatu detik, dimana kita sangat, sangat dan sangat merindukan keberadaan kita dalam ekosistem sekolah.
Dan selain itu, aku yakin ada yang bertanya-tanya, bagaimana kehidupan sekolah yang hanya berlangsung tiga tahun dapat membuat gairah kenanganku menyala-nyala ketika mengingat setiap detailnya. Setelah membaca kisahku ini, mungkin kamu akan mendapatkan jawabannya.
Sitdown please, and enjoy my story of bittersweet memories ‘bout my high shcool...
Sekolahku hanyalah sebuah sekolah sederhana yang terletak di pedesaan dan dikelilingi rumah warga serta persawahan yang luas. Namun dari pelataran belakang sekolahku, kamu dapat melihat gunung Muria yang berdiri kokoh menghujam langit. Dan spot terbaik untuk menikmatinya adalah satu-satunya gedung bertingkat di bagian depan sekolahku pada pagi hari.
Sekolahkupun bukan termasuk sekolah dengan bangunan megah. Bangunan didalamnya kebanyakan adalah ruang-ruang tua yang sudah membutuhkan perawatan dan renovasi.
Fasilitas didalamnyapun tak begitu bisa dibilang “wah”. Perpustakaanku contohnya, sebagian besar isinya adalah buku-buku yang bisa dibilang lama dan kurang terawat. Sekolahku tak memiliki ruang bahasa sendiri. Namun kami tak pernah merasa maengeluh dan bosan ketika pelajaran bahasa berlangsung. Dan bagaimana kami bisa bosan? Jika guru bahasa kami selalu mempunyai cara jitu untuk menarik perhatian kami?
Fasilitas olahraga? Lapangan bola kami penuh lumpur ketika hujan turun. Jaring net lapangan voly kali telah berlubang diberbagai sudut, begitu pula dengan lapangan basket. Dan, jangan kaget jika kami sering bahu membahu membersihkan dan memngecat lapangan basket ketika musim pertandingan tahunan tiba.
Secara singkatnya, sekolahku hanyalah sekolah sederhana yang berada ditengah desa di pinggiran pulau jawa. Dengan beberapa titik yang harus mengalami renovasi dan perbaikan kecil disana-sini. Bukan niatku untuk menjatuhkan nama baik almamaterku tercinta, tapi memang inilah keadaan kami.
Tapi inilah kisah sebenarnya dari sekolah kami. kisah yang mungkin akan sampai ditelinga anak dan cucu kami. bukan tentang bagaimana sederhananya sekolah kami. tapi tentang bagaimana kami mampu bertahan dan menjadi juara ditengah segala keterbatasan yang ada.
Don’t Judge the Book by The Cover...
Ungkapan itu layaknya sejalan dengan keadaan yang pernah kualami. Perwakilan sekolah kami sering menjuarai lomba-lomba gerak jalan dan baris berbaris di daerah kami. sering menjuarai turnamen-turnamen olahraga yang kami ikuti. Hingga lomba-lomba mata pelajaran yang sering diikuti sekolah kami.
Sekolah kami tak pernah mengadakan acara-acara besar untuk memperingati HUT sekolah kami. Kami para siswa hanya disuguhi
dengan acara-acara kecil yang menyenangkan, seperti jalan santai bersama, lomba-lomba kecil antar kelas, pembagian nasi-nasi bungkus yang kemudian harus kami makan bersama di dalam kelas atau dilapangan, dan yang paling ditunggu setiap tahunnya adalah pentas musik sederhana dengan panggung dan soundsystem seadanya, namun dengan penampilan terbaik dari setiap pemilik suara emas di ekosistem sekolah kami.
Atap sekolah kami sering bocor saat memasuki musim penghujan. Namun, karena hal itu, kami dapat lebih dekat antara satu dengan lainnya. Kami sering merapatkan meja dan bangku–bangku panjang kami, untuk saling berbagi cerita, pengalaman, dan kisah-kisah menarik kami. Itulah yang membuat kami selalu merasa dekat satu sama lain.
Adakalanya aku mensyukuri sedikitnya kelas di angkatanku. Karena dengan begitu, kami menjadi sangat dekat, dengan kelas yang selalu bersebelahan dan berhadapan selama tiga tahun. Menatap mata dan wajah yang sama, namun tak pernah terlintas kata bosan. Karena dengan itu, persahabatan kami takakan pernah terlupakan.
Memang, sekolah kami tak mempunyai fasilitas olah raga yang memadai seperti sekolah unggulan lain. Namun dengan lapangan sepak bola yang selalu becek saat hujan, itu adalah hiburan tersendiri bagi kami. Saling berlarian dibawah hujan, berebut bola, bercanda tawa, terjatuh di genangan lumpur, dan akhirnya saling tertawa lepas. Seakan dunia ini hanya milik kami. Iya KAMI disekolah sederhana ini.
Memang, sekolah kami tak mempunyai perpustakaan yang lengkap dengan buku-buku terbaru. Namun, perpustakaan kami tak pernah sepi oleh siswa-siswi. Ada saja yang mereka lakukan disana, berdiskusi tentang pelajaran, melukis, merenung, sampai membaca dan menikmati buku-buku yang menurut kami terlalu usang. Disekolah kami, perpustakaan bukan sebuah tempat suram dengan penghuni yang selalu menunduk ke arah buku. Disini, perpustakaan merupakan sebuah tempat yang dapat membuat kami merasa nyaman saat bersama.
Memang, sekolah kami bisa dikatakan agak tertinggal dari sekolah-sekolah modern di tempat atau kota besar lain. Namun, kami tak pernah merasa minder dengan keadaan sekolah kami.Kami seakan mempunyai ikatan batin tersendiri dengan sekolah tua ini. Disini kami selalu membantu satu sama lain, kami selalu berbagi. Disini pula, selalu saja ada alasan untuk merindukan masa-masa paling indah dalam kehidupan
Sekolah tua kami telah memberikan beribu-ribu kenangan yang tak pernah kami dapat di sekolah manapun. Kenangan akan kawan yang selau setia. Kenangan akan guru-guru kami yang selau mendukung kami. kenangan akan karyawan-karyawan sekolah kami yang selalu menyapa kami, selalu bersenda gurau dengan kami tanpa memandang siapa dia dalam ekosistim sekolah kami. kenangan akan berbagai jajanan kantin kami yang sederhana. Tak ada cafe, tak ada meja-meja kecil. Yang ada hanya tiga warung yang masing-masing tersekat oleh selelmbar kain, dengan beberapa meja kayu panjang dan kursi kayu panjang.
Meskipun begitu, sekolah kami memiliki andil yang besar terhadap masa depan kami. Dari nilai yang terus turun drastis di semester pertama, dari ranking terakhir di semester kedua, menjadi ranking tiga besar di semester keempat (ini pengalaman pribadi).
See? Ini memang bukan sebuah kisah cinta semasa sekolah, bukan sebuah kisah cinta pertama yang mengharu biru. Namun sebuah kisah perjuangan, dimana kami berjuang untuk tetap berdiri ditengah keadaan sekolah yang sederhana.
Seburuk,dan bagaimanapun bentuknya. Bangunan ini, gedung ini, dan ekosistem ini telah membuat sebuah kenangan yang akan kami ingat sepanjang hidup kami.
Ini kisahku tentang bagaimana sebuah gedung yang cukup tua dapat membuat berbagai kenangan indah yang akan diingat seumur hidup kami. Sebuah gedung tua yang selalu membuat kami tersenyum kala mengingat memori didalamnya. Karena disini, kami menemukan arti persahabatan, persaudaraan, dan kasih sayang sesama siswa-siswi. Dan disini juga kami dapat megejar dan meraih cita-cita kami.
Terjawabkah sudah segala pertanyaan njelimet dalam pikiran kalian, bagaimana bisa masa tiga tahun begitu istimewanya bagiku? Aku harap iya.
Cause, this is an unforgettable moment in my live ever. ^_^
Aku mengetik postingan ini sesaat setelah mengobrak-abrik blog dari penulis favoritku (kepo ya gue), Winna Efendi, dan menemukan postingan tentang giveawaynya yang bertemakan high school memories.
Ngomong-ngomong soal high school memories, aku masih sering membicarakannya dengan teman-teman seperkuliahanku, dan menerima berbagai macam tanggapan. Ada yang bilang high school itu nggak ada istimewanya, ada yang bilang mungkin masa-masa highschoolku terlalu berkesan hingga aku selalu ingat setiap detail yang terjadi didalamnya. Sampai ada yang bilang kalau aku orangnya susah melupakan masa lalu.
Aku bukannya orang yang susah melupakan masa lalu dan hanya terus-terusan meratapinya. Tapi, bagiku, masa lalu yang satu ini adalah sebuah masa yang paling menyenangkan yang pernah kualami selain dengan keluarga sedarahku.
Sebelumnya, izinkan aku untuk bertanya. Tak pernahkah kalian mengalami perasaan berdebar-debar ketika cinta pertama kalian lewat didepan kelas dan tersenyum kepada kalian? Tidakkah kalian mengingat sahabat yang sejalan dan mempunyai misi yang sama dengan kalian? Tak ingatkan tiap liku lorong yang selalu menyapa kalian setiap pagi selama kurang lebih tiga tahun? Tidakkah kalian ingat seluruh ekosistem dalam sekolah yang selalu mendorong kalian untuk sampai di bangku kuliah, separah apapun kelakuan kalian saat itu? Yah. Bagiku, high school tak bisa dilupakan begitu saja. Pasti ada suatu detik, dimana kita sangat, sangat dan sangat merindukan keberadaan kita dalam ekosistem sekolah.
Dan selain itu, aku yakin ada yang bertanya-tanya, bagaimana kehidupan sekolah yang hanya berlangsung tiga tahun dapat membuat gairah kenanganku menyala-nyala ketika mengingat setiap detailnya. Setelah membaca kisahku ini, mungkin kamu akan mendapatkan jawabannya.
Sitdown please, and enjoy my story of bittersweet memories ‘bout my high shcool...
Sekolahku hanyalah sebuah sekolah sederhana yang terletak di pedesaan dan dikelilingi rumah warga serta persawahan yang luas. Namun dari pelataran belakang sekolahku, kamu dapat melihat gunung Muria yang berdiri kokoh menghujam langit. Dan spot terbaik untuk menikmatinya adalah satu-satunya gedung bertingkat di bagian depan sekolahku pada pagi hari.
Sekolahkupun bukan termasuk sekolah dengan bangunan megah. Bangunan didalamnya kebanyakan adalah ruang-ruang tua yang sudah membutuhkan perawatan dan renovasi.
Fasilitas didalamnyapun tak begitu bisa dibilang “wah”. Perpustakaanku contohnya, sebagian besar isinya adalah buku-buku yang bisa dibilang lama dan kurang terawat. Sekolahku tak memiliki ruang bahasa sendiri. Namun kami tak pernah merasa maengeluh dan bosan ketika pelajaran bahasa berlangsung. Dan bagaimana kami bisa bosan? Jika guru bahasa kami selalu mempunyai cara jitu untuk menarik perhatian kami?
Fasilitas olahraga? Lapangan bola kami penuh lumpur ketika hujan turun. Jaring net lapangan voly kali telah berlubang diberbagai sudut, begitu pula dengan lapangan basket. Dan, jangan kaget jika kami sering bahu membahu membersihkan dan memngecat lapangan basket ketika musim pertandingan tahunan tiba.
Secara singkatnya, sekolahku hanyalah sekolah sederhana yang berada ditengah desa di pinggiran pulau jawa. Dengan beberapa titik yang harus mengalami renovasi dan perbaikan kecil disana-sini. Bukan niatku untuk menjatuhkan nama baik almamaterku tercinta, tapi memang inilah keadaan kami.
Tapi inilah kisah sebenarnya dari sekolah kami. kisah yang mungkin akan sampai ditelinga anak dan cucu kami. bukan tentang bagaimana sederhananya sekolah kami. tapi tentang bagaimana kami mampu bertahan dan menjadi juara ditengah segala keterbatasan yang ada.
Don’t Judge the Book by The Cover...
Ungkapan itu layaknya sejalan dengan keadaan yang pernah kualami. Perwakilan sekolah kami sering menjuarai lomba-lomba gerak jalan dan baris berbaris di daerah kami. sering menjuarai turnamen-turnamen olahraga yang kami ikuti. Hingga lomba-lomba mata pelajaran yang sering diikuti sekolah kami.
Sekolah kami tak pernah mengadakan acara-acara besar untuk memperingati HUT sekolah kami. Kami para siswa hanya disuguhi
dengan acara-acara kecil yang menyenangkan, seperti jalan santai bersama, lomba-lomba kecil antar kelas, pembagian nasi-nasi bungkus yang kemudian harus kami makan bersama di dalam kelas atau dilapangan, dan yang paling ditunggu setiap tahunnya adalah pentas musik sederhana dengan panggung dan soundsystem seadanya, namun dengan penampilan terbaik dari setiap pemilik suara emas di ekosistem sekolah kami.
Atap sekolah kami sering bocor saat memasuki musim penghujan. Namun, karena hal itu, kami dapat lebih dekat antara satu dengan lainnya. Kami sering merapatkan meja dan bangku–bangku panjang kami, untuk saling berbagi cerita, pengalaman, dan kisah-kisah menarik kami. Itulah yang membuat kami selalu merasa dekat satu sama lain.
Adakalanya aku mensyukuri sedikitnya kelas di angkatanku. Karena dengan begitu, kami menjadi sangat dekat, dengan kelas yang selalu bersebelahan dan berhadapan selama tiga tahun. Menatap mata dan wajah yang sama, namun tak pernah terlintas kata bosan. Karena dengan itu, persahabatan kami takakan pernah terlupakan.
Memang, sekolah kami tak mempunyai fasilitas olah raga yang memadai seperti sekolah unggulan lain. Namun dengan lapangan sepak bola yang selalu becek saat hujan, itu adalah hiburan tersendiri bagi kami. Saling berlarian dibawah hujan, berebut bola, bercanda tawa, terjatuh di genangan lumpur, dan akhirnya saling tertawa lepas. Seakan dunia ini hanya milik kami. Iya KAMI disekolah sederhana ini.
Memang, sekolah kami tak mempunyai perpustakaan yang lengkap dengan buku-buku terbaru. Namun, perpustakaan kami tak pernah sepi oleh siswa-siswi. Ada saja yang mereka lakukan disana, berdiskusi tentang pelajaran, melukis, merenung, sampai membaca dan menikmati buku-buku yang menurut kami terlalu usang. Disekolah kami, perpustakaan bukan sebuah tempat suram dengan penghuni yang selalu menunduk ke arah buku. Disini, perpustakaan merupakan sebuah tempat yang dapat membuat kami merasa nyaman saat bersama.
Memang, sekolah kami bisa dikatakan agak tertinggal dari sekolah-sekolah modern di tempat atau kota besar lain. Namun, kami tak pernah merasa minder dengan keadaan sekolah kami.Kami seakan mempunyai ikatan batin tersendiri dengan sekolah tua ini. Disini kami selalu membantu satu sama lain, kami selalu berbagi. Disini pula, selalu saja ada alasan untuk merindukan masa-masa paling indah dalam kehidupan
Sekolah tua kami telah memberikan beribu-ribu kenangan yang tak pernah kami dapat di sekolah manapun. Kenangan akan kawan yang selau setia. Kenangan akan guru-guru kami yang selau mendukung kami. kenangan akan karyawan-karyawan sekolah kami yang selalu menyapa kami, selalu bersenda gurau dengan kami tanpa memandang siapa dia dalam ekosistim sekolah kami. kenangan akan berbagai jajanan kantin kami yang sederhana. Tak ada cafe, tak ada meja-meja kecil. Yang ada hanya tiga warung yang masing-masing tersekat oleh selelmbar kain, dengan beberapa meja kayu panjang dan kursi kayu panjang.
Meskipun begitu, sekolah kami memiliki andil yang besar terhadap masa depan kami. Dari nilai yang terus turun drastis di semester pertama, dari ranking terakhir di semester kedua, menjadi ranking tiga besar di semester keempat (ini pengalaman pribadi).
See? Ini memang bukan sebuah kisah cinta semasa sekolah, bukan sebuah kisah cinta pertama yang mengharu biru. Namun sebuah kisah perjuangan, dimana kami berjuang untuk tetap berdiri ditengah keadaan sekolah yang sederhana.
Seburuk,dan bagaimanapun bentuknya. Bangunan ini, gedung ini, dan ekosistem ini telah membuat sebuah kenangan yang akan kami ingat sepanjang hidup kami.
Ini kisahku tentang bagaimana sebuah gedung yang cukup tua dapat membuat berbagai kenangan indah yang akan diingat seumur hidup kami. Sebuah gedung tua yang selalu membuat kami tersenyum kala mengingat memori didalamnya. Karena disini, kami menemukan arti persahabatan, persaudaraan, dan kasih sayang sesama siswa-siswi. Dan disini juga kami dapat megejar dan meraih cita-cita kami.
Terjawabkah sudah segala pertanyaan njelimet dalam pikiran kalian, bagaimana bisa masa tiga tahun begitu istimewanya bagiku? Aku harap iya.
Cause, this is an unforgettable moment in my live ever. ^_^
Komentar
Posting Komentar