Untuk Seseorang Yang Tak Pernah Berani Kusebut Namanya
Untukmu yang tak pernah berani kusebut namanya tulisan ini kubuat.
Mewakilkan rinduku yang setia menemani malam-malam sepiku.
Pada sebuah gambar dirimu yang setia menemani pikiranku.
Sebuah tulisan tentang bagaimana aku selalu menyembunyikan hatiku.
Yah, untuk kamu, yang tak pernah berani kusebut namanya.
Untuknya yang senyumannya menjadi candu sejak pertama kali bertemu...
Aku menemukanmu ketika kau tengah berjalan dengan santainya di tengah lorong yang dipenuhi mahasiswi baru sepertiku pada saat jam istirahat itu. Saat itu, aku tengah dengan sibuknya mencari tanda-tangan senior untuk memenuhi tugas masa orientasiku, saat kau dengan santainya menyibakkan kerumunan mahasiswa didepanmu dan berjalan melewatiku. Dan kau tau? Itu sudah terjadi hampir dua tahun sejak pertama kali aku disini.
Untuknya yang pada awalnya tak pernah kutahu namanya...
Awalnya, aku tak pernah tau siapa dirimu. Siapa namamu, apa jurusanmu, dimana tempat tinggalmu, dan bagaimana dirimu. Taukah kau, baru kali itu, aku tak berusaha mencari tau tentang dirimu seperti yang dahulu. Apakah kau tau? Itu pertama kalinya hatiku mengagumi seseorang hanya dengan dua detik memandang. Apakah kau percaya? Jika tidak, itu urusanmu.
Untuknya yang kedua bola matanya selalu meneduhkan hariku...
Aku tak pernah mengira, pertemuan dua detik itu membawaku jauh terperosok di palung hatimu. Taukah kamu? sejak pertemuan singkat beberapa detik itu, aku selalu mencuri-curi pandang kearah kedua bola matamu. Mencoba merasakan pandanganmu yang selalu meneduhkan hati, apapun yang kurasakan.
Untuknya yang langkah kakinya tak pernah lepas dari pandanganku...
Aku bukan tipe orang yang selalu ingin tau apa yang orang lain kalukan dan apa yang jadi tujuan orang lain. Tapi apakah kau tau? Sejak pertemuan dua detik yang selalu merapalkan sosokmu di hatiku, mataku selalu mengekori langkah kakimu. Menjejakkan rindu yang selalu kujaga rapat-rapat. Saat itu.
Untuknya yang akhirnya kutahu namanya...
Akhirnya aku mengetahui namamu. Sebuah nama singkat yang akhirnya menjadi akrab dalam doa dan telingaku sampai hari ini. Dan taukah kamu? Aku menngetahuinya dari seorang temanku yang tengah jatuh hati kepadamu! Salahkah aku? Meskipun bukan maksudku untuk melukainya.
Untuknya yang membuatku tak seperti biasanya dihadapan mereka...
Kau tau? Sejak aku mengetahui hal itu. Aku tak pernah menjadi diriku sendiri dihadapan kawanku. Tak pernah bisa jujur jika aku melihatmu terlebih dahulu. Selalu berusaha menyembunyikan perasaan hatiku. Kau tau apa yang kuraskan ketika itu? Aku seperti seseorang yang benar-benar jahat didunia.
Untuknya yang selalu menyisakan debaran aneh didadaku...
Jujur. Aku belum pernah merasakan debaran aneh didadaku ketika bertemu dengan seseorang yang belum kukenal dengan baik. namun saat itu aku tak mengerti, mengapa hal itu tak berlaku untukmu? Apa karena kau pria dua detikku?
Untuknya yang pernah membuatku mencoba mematikan rasa hatiku...
Apakah kau tau? Aku pernah mencoba berpindah dari hatimu. Berkali-kali. Tapi hasilnya? Aku tak pernah berhasil. Aku tak tau apa yang ada pada sosokmu. Tapi yang pasti, kau selalu membuatku pulang. Iya, pulang kehatimu.
Untuknya yang selalu menjadi alasan merekahnya senyumanku...
Aku tak tau mengapa aku selalu tersenyum saat kau lewat dihadapanku. Pipiku selalu panas. Mungkin karena mulai merona merah. Tapi untungnya kau tak pernah melihatnya. Dan setelah itu, seharian, perasaanku akan membaik, awet. Senyumanku akan seharian bertenger dibibirku. Seperti sosokmu dipikiranku.
Untuknya yang selalu menjadi alasan rasa rinduku...
Kau mungkin tak pernah tau. Selalu ada rindu yang entah mengapa setia kujaga untukmu. Meskipun berkali sapaku tak terbalas darimu. Aku tak pernah mengerti, mengapa hatiku selalu mengizinkanmu kembali. Mungkin, karena selama dua tahun ini, hanya kamu yang mengisi ruang kosong disana.
Dan untuk kau yang tak pernah berani kusebut namanya...
Ijinkan aku untuk selalu berharap, meskipun aku tau harapan itu tak pernah ada.
Ijinkan aku untuk terus menanti, meskipun aku tau penantianku tak akan pernah menemui ujungnya.
Ijinkan aku mengagumimu dalam diam. Merindukanmu dalam sepi. Dan menjagamu melalui lantunan doaku.
Karena hanya dengan itu aku bisa mencintaimu dari kejauhan.
Apakah kau keberatan dengan permintaanku? :)
Mewakilkan rinduku yang setia menemani malam-malam sepiku.
Pada sebuah gambar dirimu yang setia menemani pikiranku.
Sebuah tulisan tentang bagaimana aku selalu menyembunyikan hatiku.
Yah, untuk kamu, yang tak pernah berani kusebut namanya.
Untuknya yang senyumannya menjadi candu sejak pertama kali bertemu...
Aku menemukanmu ketika kau tengah berjalan dengan santainya di tengah lorong yang dipenuhi mahasiswi baru sepertiku pada saat jam istirahat itu. Saat itu, aku tengah dengan sibuknya mencari tanda-tangan senior untuk memenuhi tugas masa orientasiku, saat kau dengan santainya menyibakkan kerumunan mahasiswa didepanmu dan berjalan melewatiku. Dan kau tau? Itu sudah terjadi hampir dua tahun sejak pertama kali aku disini.
Untuknya yang pada awalnya tak pernah kutahu namanya...
Awalnya, aku tak pernah tau siapa dirimu. Siapa namamu, apa jurusanmu, dimana tempat tinggalmu, dan bagaimana dirimu. Taukah kau, baru kali itu, aku tak berusaha mencari tau tentang dirimu seperti yang dahulu. Apakah kau tau? Itu pertama kalinya hatiku mengagumi seseorang hanya dengan dua detik memandang. Apakah kau percaya? Jika tidak, itu urusanmu.
Untuknya yang kedua bola matanya selalu meneduhkan hariku...
Aku tak pernah mengira, pertemuan dua detik itu membawaku jauh terperosok di palung hatimu. Taukah kamu? sejak pertemuan singkat beberapa detik itu, aku selalu mencuri-curi pandang kearah kedua bola matamu. Mencoba merasakan pandanganmu yang selalu meneduhkan hati, apapun yang kurasakan.
Untuknya yang langkah kakinya tak pernah lepas dari pandanganku...
Aku bukan tipe orang yang selalu ingin tau apa yang orang lain kalukan dan apa yang jadi tujuan orang lain. Tapi apakah kau tau? Sejak pertemuan dua detik yang selalu merapalkan sosokmu di hatiku, mataku selalu mengekori langkah kakimu. Menjejakkan rindu yang selalu kujaga rapat-rapat. Saat itu.
Untuknya yang akhirnya kutahu namanya...
Akhirnya aku mengetahui namamu. Sebuah nama singkat yang akhirnya menjadi akrab dalam doa dan telingaku sampai hari ini. Dan taukah kamu? Aku menngetahuinya dari seorang temanku yang tengah jatuh hati kepadamu! Salahkah aku? Meskipun bukan maksudku untuk melukainya.
Untuknya yang membuatku tak seperti biasanya dihadapan mereka...
Kau tau? Sejak aku mengetahui hal itu. Aku tak pernah menjadi diriku sendiri dihadapan kawanku. Tak pernah bisa jujur jika aku melihatmu terlebih dahulu. Selalu berusaha menyembunyikan perasaan hatiku. Kau tau apa yang kuraskan ketika itu? Aku seperti seseorang yang benar-benar jahat didunia.
Untuknya yang selalu menyisakan debaran aneh didadaku...
Jujur. Aku belum pernah merasakan debaran aneh didadaku ketika bertemu dengan seseorang yang belum kukenal dengan baik. namun saat itu aku tak mengerti, mengapa hal itu tak berlaku untukmu? Apa karena kau pria dua detikku?
Untuknya yang pernah membuatku mencoba mematikan rasa hatiku...
Apakah kau tau? Aku pernah mencoba berpindah dari hatimu. Berkali-kali. Tapi hasilnya? Aku tak pernah berhasil. Aku tak tau apa yang ada pada sosokmu. Tapi yang pasti, kau selalu membuatku pulang. Iya, pulang kehatimu.
Untuknya yang selalu menjadi alasan merekahnya senyumanku...
Aku tak tau mengapa aku selalu tersenyum saat kau lewat dihadapanku. Pipiku selalu panas. Mungkin karena mulai merona merah. Tapi untungnya kau tak pernah melihatnya. Dan setelah itu, seharian, perasaanku akan membaik, awet. Senyumanku akan seharian bertenger dibibirku. Seperti sosokmu dipikiranku.
Untuknya yang selalu menjadi alasan rasa rinduku...
Kau mungkin tak pernah tau. Selalu ada rindu yang entah mengapa setia kujaga untukmu. Meskipun berkali sapaku tak terbalas darimu. Aku tak pernah mengerti, mengapa hatiku selalu mengizinkanmu kembali. Mungkin, karena selama dua tahun ini, hanya kamu yang mengisi ruang kosong disana.
Dan untuk kau yang tak pernah berani kusebut namanya...
Ijinkan aku untuk selalu berharap, meskipun aku tau harapan itu tak pernah ada.
Ijinkan aku untuk terus menanti, meskipun aku tau penantianku tak akan pernah menemui ujungnya.
Ijinkan aku mengagumimu dalam diam. Merindukanmu dalam sepi. Dan menjagamu melalui lantunan doaku.
Karena hanya dengan itu aku bisa mencintaimu dari kejauhan.
Apakah kau keberatan dengan permintaanku? :)
Komentar
Posting Komentar