Setiap Tempat Punya Cerita - Madrid 2

Luna*
Alandra mengundangku untuk cena di kedai kecilnya. Katanya, sebagai ucapan terima kasih, karena bersedia membantunya di kedai dan menjemput sepupunya di Barajas.

“Muchas gracias, Alandra. Kau ini, lain kali tak usah repot-repot begini. Aku suka bekerja di kedai ini. Rasanya seperti berada di dapur rumah sendiri.” Kataku.

Alandra menuangkan vino tinto* ke dalam empat gelas kecil diatas meja. “No, Luna. kau telah membantu banyak kali ini. aku yang seharusnya berterima kasih. Sekarang kau diam, duduk dan aku akan menyajikan Abondigas Sofrito* untukmu” Ucapnya sambil menunjukkan mimik galaknya. Tapi, dengan raut mukanya yang tak bisa terlihat galak-sekalipun ia sedang marah, itu malah akan membuat siapapun yang melihat ekspresinya sekarang ini akan langsung tertawa terpingkal-pingkal. Termasuk Jason dan Nathan.

“Por qué*?” tanya Alandra.

Seketika kami bertiga menghentikan tawa kami lalu serempak berkata tidak.

“Así, Luna. Bagaimana kau bisa terdampar di Madrid? Bukankah masih ada Oxford ataupun Brimmingham untuk studimu?” tanya Jason.

“Kau tak tau? Luna disini karena sebuah keberuntungan, Jason. Suerte*!” kali ini alandra yang menjawab pertanyaan Jason.

“Suerte? Realmente*, Luna?” mata Jason terbelak ngeri. Mungkin baginya, aku adalah makhluk yang perlu dilestarikan.

“Tak usah mendengarkan Alandra, Jason.” Dengusku, sembari melempar serbet yang berada di pangkuanku ke arah Alandra. “Aku hanya menuruti perkataan dosenku di Jogja. Lagipula, dengan nilai pas-pasan aku tak yakin bisa masuk kedua University itu.”

Kuceritakan bagaimana langkahku bisa terhenti di Madrid. Sementara Jason, hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saat mendengar ceritaku. Entah benar-benar mengerti, entah pura-pura agar menyenangkanku.

Aku melirik Nathan, dia menggenggam gelas kecil berisi vino tinto yang belum berkurang sama sekali. Sesekali mata kami beradu. Menimbulkan getaran-getaran aneh dalam perut yang entah apa namanya.

“Luna, maukah kau mengajak Nathan berkeliling Madrid?” tanya Jason setelah ceritaku berakhir.

Aku kembali melirik Nathan, dia tak lagi menggenggam gelasnya, tapi melihatku, seolah menanti jawaban apa yang akan ku katakan pada Jason. “Tapi Jason, Alandra membutuhkan bantuan di kedai,” kataku.

“Ayolah, Luna. Besok aku harus ke Las Rojas. Ada hal penting disana,” pinta Jason. Aku melirik Alandra, meminta persetujuannya.

“Pergilah, Luna. kau telah banyak membantu seminggu ini. kau juga harus menikmati liburanmu, kan?” kata Alandra, mengedipkan sebelah matanya, seakan menyadari apa yang telah ku pikirkan sejak tadi.

“oke-oke jika kalian berdua memaksa.” Kataku akhirnya, menyetujui ‘paksaan’ Jason dan Alandra. “tapi, apa Monseiour Nathan mau kuajak berkeliling?” tanyaku. Kedua saudara sepupu itu bergantian melihat kearah Nathan.

“Oui, Madamoiselle Luna.” Nathan hanya tersenyum tipis, menganggukkan kepala takzim. Apakah laki-laki ini tak bisa berekspresi dengan lebih baik? gerutuku.

***

Aku menutup pintu kamar, kemudian membanting tubuh ke sofa empuk yang ku letakkan berseberangan dengan jendela besar di kamarku. Hal ini selalu menghilangkan segala penatku. Menghilangkan segala kejenuhanku akan tugas-tugas kuliah yang menumpuk. Dan membunuh sedikit demi sedikit kerinduanku terhadap kota Jogja.

Saat pertama kali membuka pintu berkayu mahoni dan melihat pemandangan kota dari jendela, rasanya ingin segera meletakkan lounge chair menghadap pemandangan kota. Nadia, yang mengetahui ekspektasiku terhadap segala bentuk landscape dan cahaya kota, hanya geleng-geleng ketika aku segera menentukan bahwa inilah flat yang akan kami tempati selama berada di Madrid. Ia dengan sangat mengerti membiarkanku memilih kamar yang langsung berhadapan dengan landscape Madrid yang tak terlalu sumpek walau dengan gedung-gedung bertingkat layaknya Jakarta. Hingga sehari setelah kepindahan kami aku memutuskan hal penting. Aku bertambah jatuh cinta dengan kota matador ini.

Aku baru memejamkan mata sejenak dengan posisi badan masih duduk di lounge chair abu-abuku, ketika bayangan Nathan tiba-tiba menyeruak dan menghiasi lembaran pikiranku. Senyum tipisnya, sepasang lesung pipinya, rambut ikal yang ia biarkan tumbuh melewati telinga, dan sebuah mata coklat muda yang tajam.

Ku buka mataku, mencoba menghilangkan bayangan lelaki kurus jangkung tersebut dari bayangan pikiranku. Bahkan kami baru bertemu tadi pagi. Beberapa jam yang lalu. Dan obrolan kamipun masih terbatas. Sangat terbatas bahkan. Tapi, bagaimana bisa aku malah memikirkannya? Seakan otakku menolak bekerja sama hanya untuk menghadirkan sosok itu dalam ingatanku. Aku bahkan tak pernah merasakan hal ini ketika pertama kali bertemu dengan Reno, kekasihku. Tak pernah meskipun hanya dalam sekejab saat menutup mata, bayangan Reno tiba-tiba hadir dan memenuhi relung pikiranku. Menyusuri setiap lorong-lorong ingatanku. Tak pernah.

Aku berteriak ngeri dan mengacak-acak rambutku sendiri. Lalu beberapa detik kemudian, pintu kamarku diketuk dari luar, Nadia. “Lun! Lo baik-baik aja, kan? Gue masuk ya?”

Aku tak menolak, tak juga mengiyakan. Lalu sedetik kemudian pintu kamar terbuka lebar. “Lun, kenapa lo?” tanya Nadia sambil duduk di sebelahku. Aku melihatnya sebentar, kemudian seperti biasa, mengalirlah cerita tentang Alandra yang meminta tolong untuk menjemput sepupunya di Barajas, lalu Jason yang membawa teman Indonya ke Madrid, kemudian permintaan konyol Jason dan persetujuan Alandra. Serta bayangan Nathan yang tak bisa hilang dari ingatan.

“Trus aku harus gimana, Nad?” tanyaku. Menelungkupkan muka pada bantal yang sedari tadi hanya menjadi korban kekesalanku.

Nadia mengelus punggungku pelan. “Lo pernah ngerasain hal itu sama Reno nggak?” Aku menatapnya. Lalu menggeleng pelan.

“Luna. Lo hanya jatuh cinta. Nikmatin aja jatuh cinta pertama lo di kota sekeren Madrid.” Kata Nadia.

“Tapi Reno, Nad?” tanyaku pada akhirnya.

“Dia udah hubungi kamu lagi?” aku menggelengkan kepalaku kembali. “mungkin karena pulsa telfon mahal, Nad. Mungkin juga dia sibuk ngurusin kerjaannya.”

“Luna. pikirin baik-baik, dan ikuti kata hatimu.” Nadia menatapku lembut. Lalu beranjak pergi. “Aku ada janji sama Alex, besok kita lanjutin ceritanya.” Aku hanya mengangguk. Pasrah.

Meskipun Nadia terkenal dengan yang namanya gonta-ganti pacar selama di Madrid. Dia seorang sahabat yang baik, dan pendapatnya selalu benar. Terlewat benar malah terkadang.

Dua bulan terakhir, memasuki tahun keduaku di Madrid. Reno memang jarang memberi kabar. Entah lewat facebook, akun twitternya, email, sms, ataupun telepon. Aku mencoba untuk berpikiran positif. Mungkin karena waktu dan jarak yang menghambat komunikasi kami, atau pekerjaannya yang sedang menumpuk di Jogja sana. Walaupun perbedaan waktu Indonesia dan Madrid yang hanya berkisar antara 5 jam, yang artinya tak terlalu terkendala perbedaan waktu untuk sekedar menelfon untuk menanyakan kabar. Atau mungkin...Ah! Aku segera membuang segala prasangka buruk tentang Reno, dan tentang Jogja.

Akhirnya aku memutuskan untuk mandi air dingin agar pikiranku tak lagi merembet kemana-mana. Namun, sepertinya, ucapan Nadia barusan menyadarkanku tentang suatu hal. Suatu hal yang sebenarnya tak ingin ku ketahui.


Nathan*

Ini pertama kalinya gue pergi ke Madrid. Untuk itupun, gue harus mati-matian membujuk Mom agar membolehkan gue liburan musim panas disini, bukan pulang Ke Indonesia. Entah apa yang akhirnya membuat Mom membiarakan gue pergi ke Madrid sehari sebelum tiket pesawat gue hangus.

Gue nggak punya alasan khusus liburan ke Madrid. Satu-satunya alasan adalah ajakan Jason, dan tawaran tempat tinggal serta makan gratis selama di sana. Sehari sebelum keberangkatan, gue menyempatkan diri mem-browsing tempat-tempat menarik yang ingin gue kunjungi selama di Madrid, dan gue beruntung, gue nggak salah pilih destinasi tujuan liburan musim panas kali ini.

***

Suasana Barajas International Airport siang ini cukup lengang. Mungking karena liburan musim panas yang baru akan dimulai seminggu lagi. Jason cukup cerdik, untuk memboyong gue sebelum liburan dimulai agar takkehabisan tiket pesawat, meskipun bisa saja kami menggunakan kereta api untuk sampai di Madrid.

Gue kira, sesampainya di Barajas, kami akan dijemput oleh sepupu Jason- sesuai rencana. Namun yang gue temuin adalah gadis dengan wajah seratus persen Indo-Jawa. Tingginya sekitar sebahu gue, dengan rambut kuncir kuda dan tas slempang belelnya.

“Luna, Welcome to Madrid, Nathan.” Ucapnya. Gue tersenyum. Untuk takdir yang belum sepenuhnya muncul dihadapan gue.

***

Sepupu Jason menjamu kami di kedai makanan Indonesianya. Ia menyempatkan diri untuk memasak masakan khas Spanyol untuk kami bertiga. Gayanya yang santai membuat gue betah untuk menghabiskan beberapa minggu liburan disini. Apalagi dengan gadis manis yang duduk di seberang meja.

Berulang kali gue melirik wajahnya yang bersemu merah, lalu secepat kilat membuang pandangan pada gelas kecil berisi red wine yang dituangkan Alandra. Gue gak mau terlihat konyol didepan wanita yang baru beberapa jam gue kenal.

“Luna itu gadis yang cukup beruntung. La Complu menerimanya, walaupun nilai yang pas-pasan di kampusnya di Indonesia.” Kata Alandra, sesaat setelah mengantarkan Luna di pintu depan. “Setahun lalu, aku menemukannya sedang membaca menu-menu di jendela depan kedai. Dengan sekali lihat, aku langsung mengetahui bahwa ia orang Indonesia.”

Gue hanya menganggukkan kepala mendengar cerita Alandra, melihat red wine yang dituangkan Alandra, dan memutuskan untuk meneguknya. “Kamu beruntung, Nathan. Biasanya, Luna tak pernah mau menemani siapapun yang belum dikenalnya secara baik.”

Gue tercekat. Tepat sebelum gelas mungil itu menyentuh bibir gue.

Pikiran gue terus memikirkan apa yang telah diucapkan Alandra barusan. Dua kata yang malam ini menjadi pengisi otak gue setelah mendarat di Madrid. Luna dan keberuntungan.

Hingga pada akhirnya gue nggak jadi minum setetespun wine yang dituang Alandra.

Continuo...

Kosakata :
vino tinto : Red Wine dalam bahasa Spain
Abondigas Sofrito : Makanan khas Spanyol. berupa bola-bola daging ayam yang dicelup kedalam saus tomat khas spanyol.
Por qué : Ada apa
Suerte : Keberuntungan
Realmente : benarkah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Life After You

MakerAp (Sebuah Kelas, Sebuah Cerita)

Kini, Aku Menemukanmu...