Setiap Tempat Punya Cerita - Madrid
Madrid telah menjadi salah satu kota impianku sejak dulu. Bukan karena kesebelasan sepakbolanya yang banyak digandrungi masyarakat Indonesia, tapi bangunan-bangunan tua yang menghiasi setiap sudut kota ini.
Awalnya aku mengirimkan aplikasi ke Universided Complutense de Madrid atas rekomendasi dosen pembimbing skripsiku di Yogyakarta. Mengirimnya pun aku hanya sekedar basa-basi untuk menghormati rekomendasi dosenku, karena akupun tau, tak mudah bagi mahasiswi Indonesia dengan nilai pas-pasan sepertkku menembus sebuah perguruan tinggi yang lumayan favorit di kota itu.
Namun aku tak pernah menyangka, ‘iseng-iseng berhadiah’ tersebut membawa berita yang sama sekali tak pernah kuduga.
Aplikasiku diterima di perguruan tinggi bergengsi di Madrid, kota impianku.
Keberangkatanku saat itu terkesan tergesa-gesa, dengan waktu kurang dari dua bulan untuk mengurus Visa ijin tinggal, paspor, dan segala sesuatu di kampus untuk dihibahkan ke Madrid. Kamar kecilku di Jogja pun tak luput seperti kapal pecah. harus cermat memilah barang dan pakaian mana yang harus masuk kedalam koper besar, dan mana yang harus tinggal di tempat ini.
Dan sekarang, aku disini. Dengan kebiasaan yang nyaris tak pernah terlewatkan sejak pertama kali menginjakkan kakiku di tanah Matador. Senja dan kedai pinggiran kota tua ini menjadi tempat favoritku, tempat renunganku, dan keluh kesahku-selain Nikon dan roommateku tentunya.
***
“Oh, Querido*! Apa kau mempunyai waktu senggang beberapa hari?” Tanya Alandra, mengambil tempat tepat didepanku sambil menyeka keringat yang mulai membuat lepek rambut pirang sebahunya.
“Sí* Alandra, ada yang bisa saya bantu?”
“Kemarin, Cortez meminta ijin kepadaku, ia mengajukan cuti untuk waktu yang belum bisa ia tentukan. Mamánya sakit, dan dia harus kembali ke Meridia untuk merawat Mamá.” Aku terdiam menunggu gadis manis didepanku melanjutkan kalimatnya. “Así*, Luna. Maukah kau menggantikan Cortez untuk beberapa saat? Kudengar dari Nadia kau hobi memasak di flatmu. Cómo*?”
Aku berpikir sejenak. Nampaknya liburan musim panas ini akan terasa bosan jika aku hanya berdiam di flat dan mendengarkan cerita Nadia tentang pria-pria bermata biru yang berhasil ia kencani semalaman. Apalagi tak ada kelas pendek yang perlu kuambil semster ini. jadi aku memutuskan untuk mengiyakan tawaran Alandra.
“Quiero*, Alandra. Kapan aku bisa memulai bagianku?” kataku tersenyum. Alandra serta merta berubah girang dan langsung memelukku setelah mendengar keputusanku untuk kerja part time selama liburan musim panas di Kedai kecilnya.
***
Tak banyak yang bisa kuceritakan tentang kota terbesar di Spanyol ini. Madrid mempunyai setidaknya dua puluh satu distrik yang tersebar di penjuru kotanya. Kampusku sendiri terletak di distrik Ciudad Universitaria serta distrik Somosaguas. aku menyewa sebuah flat kecil yang berjarak sekitar 2 kilometer dari kampus, bersama Nadia yang juga mahasiswi La Complu.
Meskipun jarak antara flat dan kampusku lumayan memakan waktu, namun aku selalu memilih untuk berjalan kaki dari flat ke kampus. Walaupun ada bus yang memiliki rute Escuela de Diseño Fashion University - Universided Complutense de Madrid - Moncloa Bus Station. Namun, bagiku, kota kecil ini memiliki ribuan keunikan yang tak bisa di tangkap melalui jendela bus yang setiap melewati beberapa bangunan secara cepat setiap detiknya. Hanya dengan berjalan, kita bisa benar-benar menikmati arsitektur bangunan kuno dengan detail yang benar-benar menakjubkan.
Kebiasaanku berjalan-jalan menikmati kotalah yang akhirnya menemukanmu dengan Kedai Pueblo Indonesio milik Alandra. Gadis manis bermata safir itu mencintai segala sesuatu tentang Indonesia, termasuk makanannya. oleh karena itu ketika ia melihatku berdiri didepan etalase kedainya untuk membaca menu-menu yang familiar di telingaku, ia segera mengajakku mengobrol dengan bahasa Indonesianya yang lumayan fasih.
Pernah sekali waktu kugoda Alandra, "Kenapa tau kau cari saja kekasih dari Indonesia,Senora? Bukankah sayang jika kau sering menyambangi Indonesia tanpa melirik pria-pria pantainya?"
Alandra hanya tertawa renyah, "No, Luna. Sepertinya birokrasi negaramu terlalu rumit untukku. Aku hanya ingin mencintai alam dan budayanya saja. Exquisito*!"
Membicarakan Indonesia bersama Alandra di kedai penuh bumbu-bumbu Indonesia miliknya selalu membuatku rindu akan rumah. Rindu akan suara Ibu yang selalu membangunkanku setiap pukul lima pagi. Rindu akan kegiatan-kegiatan kampusku di Jogja. Juga rindu dengan segala masakan Ibu-yang walaupun kadang aku merasa bosan.
Namun aku memutuskan untuk memendam dulu rasa rindu. Terlalu dini untuk merindukan rumah, apalagi di kota yang penuh kejutan ini.
***
"Cariño*, Luna! Maukah kau menolongku?" Pinta Alandra. "Hari ini sepupuku datang, dan aku tak punya cukup waktu untuk menjemputnya. Maukah kau menolongku menjemputnya di Barajas*?"
Aku melihat sekeliling. Kedai memang ramai saat akhir pekan seperti ini. Beberapa mahasiswa Indonesia yang kukenal juga berada disini, mungkin untuk membunuh kerinduan akan rumah mereka.
"Triste, Alandra," aku terdiam sejenak, berpikir, "Pero nunca pude resistir su solicitud*." Aku tersenyum lebar penuh kejahilan ke arah Alandra.
"Oh, Luna! Muchas Gracias! Aku akan mengambilkan fotonya untukmu, dan segera mengabarinya." Seru Alandra, lalu kemudian menghilang di tangga menuju lantai atas.
***
Cuaca panas Madrid beberapa hari ini sempat membuatku serasa berada di Indonesia. Dengan suhu udara yang mencapai tiga puluh lima derajat selsius, aku serasa sedang berjalan-jalan di pantai Parangtritis pada jam dua belas siang. Tiba-tiba aku kembali merindukan rumah, terlebih merindukan pantai. Disini, pantai terlalu jauh. Ralat. Sangat Jauh.
Tapi untungnya, bandar udara internasional ini memiliki ruang tunggu yang nyaman. Sehingga aku tak merasa jengah menunggu sepupu Alandra dari Paris itu.
Aku menimang foto di tanganku. Foto sepupu Alandra. Jason. Dari cerita Alandra, yang ku tahu Jason berhijrah ke Paris sejak kedua orang tuanya bercerai, dan melanjutkan studinya ke Universitas Sorbonne. Aku mengamati lelaki yang juga berambut pirang ini. Tegap, dan memiliki garis wajah yang hampir sama dengan Alandra. Menarik. Namun tak ada niatanku untuk memboyong seorang pria Spanyol kerumah, atau jika ada niatan, maka aku harus menyisihkan waktu beberapa jam atau mungkin beberapa hari untuk mendengar omelan Ibu. Stt, Ibu pernah memintaku agar tak memboyong pria bule kerumah untuk mengenalkannya sebagai kekasihku.
"Señora* Luna?" Suara bass seseorang menyadarkanku dari lamunan. Aku menoleh untuk melihat sumber suara.
"Sí. Lo siento, quién*?" Aku menyipitkan mata, mencoba menggali ingatanku lebih dalam. Siapa tau sosok ini adalah kenalanku disini, meskipun aku ragu pernah mengenalnya.
"Jason. Sepupu Alandra." Ia mengulurkan tangannya.
"Oh, Si. Luna. Bienvenida de nuevo, Jason*." Aku menyambut uluran tanggannya sembari tersenyum. "Bisa kita pulang sekarang, Senor? Aku harus membantu Alandra di kedai."
"Esperar*, Luna. Aku mengajak seorang temanku kesini, dan dia sedang di toilet. Espere un minuto*."
Aku menganggukan kepalaku. Lalu basa-basi menanyakan study Jason di La Sorbonne. Hingga...
"Désolé de vous avoir fait attendre longtemps, Jason*." Kata seseorang yang kuyakini adalah teman Jason dari Paris. Tawa renyah keluar dari mulutnya "Allez. Je ne peux pas attendre pour explorer Madrid*."
Aku menolehkan kepalaku, untuk melihat teman Jason. Bayanganku tentang seorang pria Prancis dengan badan tegap dan tinggi hilang seketika, tergantikan dengan wajah khas asia, dengan rambut hitam legam dan senyum yang memunculkan sepasang lesung pipit manis di pipinya.
"Kenalkan Luna, ini temanku dari Paris, namanya Nathan," Pria bernama Nathan itu mengulurkan tangannya sembari masih memamerkan senyuman lesung pipinya. Tanganku menyambutnya. Hangat.
"Nathan. Indonesian?" Tanyanya.
"Luna. Sí. Yogyakarta."
"Eh, gue juga dari Indo. Jakarta." katanya. kini memamerkan deretan giginya yang putih bersih dan rapih.
"Welcome to Madrid, Nathan." Kataku tersenyum. Entah, terasa ringan sekali tersenyum untuk makhluk berlesung pipi manis seperti dia.
Continuó... :)
Kosakata :
Querido : Panggilan sayang
Si : Iya
Así : Jadi
Como : Bagaimana
Quiero : Aku Mau (Bentuk persetujuan)
Exquisito : Sangat Indah
Cariño : Darling (panggilan sayang)
Barajas : International Airport di Madrid
Triste, Alandra. Pero nunca pude resistir su solicitud : Maaf Alandra, tapi aku tak pernah bisa menolak permintaanmu
Senora : Panggilan sopan untuk wanita (semacam kata Nyonya, atau Mrs)
Sí. Lo siento, quién : Iya. Maaf, anda siapa?
Bienvenida de nuevo, Jason : Selamat datang kembali, Jason
Esperar : Tunggu
Espere un minuto : Tunggu sebentar
Désolé de vous avoir fait attendre longtemps, Jason : Maaf membuatmu menunggu lama, Jason (Bahasa Prancis)
Allez. Je ne peux pas attendre pour explorer Madrid : Ayo. Aku tak sabar untuk menjelajahi Madrid ( Bahasa Prancis )
Awalnya aku mengirimkan aplikasi ke Universided Complutense de Madrid atas rekomendasi dosen pembimbing skripsiku di Yogyakarta. Mengirimnya pun aku hanya sekedar basa-basi untuk menghormati rekomendasi dosenku, karena akupun tau, tak mudah bagi mahasiswi Indonesia dengan nilai pas-pasan sepertkku menembus sebuah perguruan tinggi yang lumayan favorit di kota itu.
Namun aku tak pernah menyangka, ‘iseng-iseng berhadiah’ tersebut membawa berita yang sama sekali tak pernah kuduga.
Aplikasiku diterima di perguruan tinggi bergengsi di Madrid, kota impianku.
Keberangkatanku saat itu terkesan tergesa-gesa, dengan waktu kurang dari dua bulan untuk mengurus Visa ijin tinggal, paspor, dan segala sesuatu di kampus untuk dihibahkan ke Madrid. Kamar kecilku di Jogja pun tak luput seperti kapal pecah. harus cermat memilah barang dan pakaian mana yang harus masuk kedalam koper besar, dan mana yang harus tinggal di tempat ini.
Dan sekarang, aku disini. Dengan kebiasaan yang nyaris tak pernah terlewatkan sejak pertama kali menginjakkan kakiku di tanah Matador. Senja dan kedai pinggiran kota tua ini menjadi tempat favoritku, tempat renunganku, dan keluh kesahku-selain Nikon dan roommateku tentunya.
***
“Oh, Querido*! Apa kau mempunyai waktu senggang beberapa hari?” Tanya Alandra, mengambil tempat tepat didepanku sambil menyeka keringat yang mulai membuat lepek rambut pirang sebahunya.
“Sí* Alandra, ada yang bisa saya bantu?”
“Kemarin, Cortez meminta ijin kepadaku, ia mengajukan cuti untuk waktu yang belum bisa ia tentukan. Mamánya sakit, dan dia harus kembali ke Meridia untuk merawat Mamá.” Aku terdiam menunggu gadis manis didepanku melanjutkan kalimatnya. “Así*, Luna. Maukah kau menggantikan Cortez untuk beberapa saat? Kudengar dari Nadia kau hobi memasak di flatmu. Cómo*?”
Aku berpikir sejenak. Nampaknya liburan musim panas ini akan terasa bosan jika aku hanya berdiam di flat dan mendengarkan cerita Nadia tentang pria-pria bermata biru yang berhasil ia kencani semalaman. Apalagi tak ada kelas pendek yang perlu kuambil semster ini. jadi aku memutuskan untuk mengiyakan tawaran Alandra.
“Quiero*, Alandra. Kapan aku bisa memulai bagianku?” kataku tersenyum. Alandra serta merta berubah girang dan langsung memelukku setelah mendengar keputusanku untuk kerja part time selama liburan musim panas di Kedai kecilnya.
***
Tak banyak yang bisa kuceritakan tentang kota terbesar di Spanyol ini. Madrid mempunyai setidaknya dua puluh satu distrik yang tersebar di penjuru kotanya. Kampusku sendiri terletak di distrik Ciudad Universitaria serta distrik Somosaguas. aku menyewa sebuah flat kecil yang berjarak sekitar 2 kilometer dari kampus, bersama Nadia yang juga mahasiswi La Complu.
Meskipun jarak antara flat dan kampusku lumayan memakan waktu, namun aku selalu memilih untuk berjalan kaki dari flat ke kampus. Walaupun ada bus yang memiliki rute Escuela de Diseño Fashion University - Universided Complutense de Madrid - Moncloa Bus Station. Namun, bagiku, kota kecil ini memiliki ribuan keunikan yang tak bisa di tangkap melalui jendela bus yang setiap melewati beberapa bangunan secara cepat setiap detiknya. Hanya dengan berjalan, kita bisa benar-benar menikmati arsitektur bangunan kuno dengan detail yang benar-benar menakjubkan.
Kebiasaanku berjalan-jalan menikmati kotalah yang akhirnya menemukanmu dengan Kedai Pueblo Indonesio milik Alandra. Gadis manis bermata safir itu mencintai segala sesuatu tentang Indonesia, termasuk makanannya. oleh karena itu ketika ia melihatku berdiri didepan etalase kedainya untuk membaca menu-menu yang familiar di telingaku, ia segera mengajakku mengobrol dengan bahasa Indonesianya yang lumayan fasih.
Pernah sekali waktu kugoda Alandra, "Kenapa tau kau cari saja kekasih dari Indonesia,Senora? Bukankah sayang jika kau sering menyambangi Indonesia tanpa melirik pria-pria pantainya?"
Alandra hanya tertawa renyah, "No, Luna. Sepertinya birokrasi negaramu terlalu rumit untukku. Aku hanya ingin mencintai alam dan budayanya saja. Exquisito*!"
Membicarakan Indonesia bersama Alandra di kedai penuh bumbu-bumbu Indonesia miliknya selalu membuatku rindu akan rumah. Rindu akan suara Ibu yang selalu membangunkanku setiap pukul lima pagi. Rindu akan kegiatan-kegiatan kampusku di Jogja. Juga rindu dengan segala masakan Ibu-yang walaupun kadang aku merasa bosan.
Namun aku memutuskan untuk memendam dulu rasa rindu. Terlalu dini untuk merindukan rumah, apalagi di kota yang penuh kejutan ini.
***
"Cariño*, Luna! Maukah kau menolongku?" Pinta Alandra. "Hari ini sepupuku datang, dan aku tak punya cukup waktu untuk menjemputnya. Maukah kau menolongku menjemputnya di Barajas*?"
Aku melihat sekeliling. Kedai memang ramai saat akhir pekan seperti ini. Beberapa mahasiswa Indonesia yang kukenal juga berada disini, mungkin untuk membunuh kerinduan akan rumah mereka.
"Triste, Alandra," aku terdiam sejenak, berpikir, "Pero nunca pude resistir su solicitud*." Aku tersenyum lebar penuh kejahilan ke arah Alandra.
"Oh, Luna! Muchas Gracias! Aku akan mengambilkan fotonya untukmu, dan segera mengabarinya." Seru Alandra, lalu kemudian menghilang di tangga menuju lantai atas.
***
Cuaca panas Madrid beberapa hari ini sempat membuatku serasa berada di Indonesia. Dengan suhu udara yang mencapai tiga puluh lima derajat selsius, aku serasa sedang berjalan-jalan di pantai Parangtritis pada jam dua belas siang. Tiba-tiba aku kembali merindukan rumah, terlebih merindukan pantai. Disini, pantai terlalu jauh. Ralat. Sangat Jauh.
Tapi untungnya, bandar udara internasional ini memiliki ruang tunggu yang nyaman. Sehingga aku tak merasa jengah menunggu sepupu Alandra dari Paris itu.
Aku menimang foto di tanganku. Foto sepupu Alandra. Jason. Dari cerita Alandra, yang ku tahu Jason berhijrah ke Paris sejak kedua orang tuanya bercerai, dan melanjutkan studinya ke Universitas Sorbonne. Aku mengamati lelaki yang juga berambut pirang ini. Tegap, dan memiliki garis wajah yang hampir sama dengan Alandra. Menarik. Namun tak ada niatanku untuk memboyong seorang pria Spanyol kerumah, atau jika ada niatan, maka aku harus menyisihkan waktu beberapa jam atau mungkin beberapa hari untuk mendengar omelan Ibu. Stt, Ibu pernah memintaku agar tak memboyong pria bule kerumah untuk mengenalkannya sebagai kekasihku.
"Señora* Luna?" Suara bass seseorang menyadarkanku dari lamunan. Aku menoleh untuk melihat sumber suara.
"Sí. Lo siento, quién*?" Aku menyipitkan mata, mencoba menggali ingatanku lebih dalam. Siapa tau sosok ini adalah kenalanku disini, meskipun aku ragu pernah mengenalnya.
"Jason. Sepupu Alandra." Ia mengulurkan tangannya.
"Oh, Si. Luna. Bienvenida de nuevo, Jason*." Aku menyambut uluran tanggannya sembari tersenyum. "Bisa kita pulang sekarang, Senor? Aku harus membantu Alandra di kedai."
"Esperar*, Luna. Aku mengajak seorang temanku kesini, dan dia sedang di toilet. Espere un minuto*."
Aku menganggukan kepalaku. Lalu basa-basi menanyakan study Jason di La Sorbonne. Hingga...
"Désolé de vous avoir fait attendre longtemps, Jason*." Kata seseorang yang kuyakini adalah teman Jason dari Paris. Tawa renyah keluar dari mulutnya "Allez. Je ne peux pas attendre pour explorer Madrid*."
Aku menolehkan kepalaku, untuk melihat teman Jason. Bayanganku tentang seorang pria Prancis dengan badan tegap dan tinggi hilang seketika, tergantikan dengan wajah khas asia, dengan rambut hitam legam dan senyum yang memunculkan sepasang lesung pipit manis di pipinya.
"Kenalkan Luna, ini temanku dari Paris, namanya Nathan," Pria bernama Nathan itu mengulurkan tangannya sembari masih memamerkan senyuman lesung pipinya. Tanganku menyambutnya. Hangat.
"Nathan. Indonesian?" Tanyanya.
"Luna. Sí. Yogyakarta."
"Eh, gue juga dari Indo. Jakarta." katanya. kini memamerkan deretan giginya yang putih bersih dan rapih.
"Welcome to Madrid, Nathan." Kataku tersenyum. Entah, terasa ringan sekali tersenyum untuk makhluk berlesung pipi manis seperti dia.
Continuó... :)
Kosakata :
Querido : Panggilan sayang
Si : Iya
Así : Jadi
Como : Bagaimana
Quiero : Aku Mau (Bentuk persetujuan)
Exquisito : Sangat Indah
Cariño : Darling (panggilan sayang)
Barajas : International Airport di Madrid
Triste, Alandra. Pero nunca pude resistir su solicitud : Maaf Alandra, tapi aku tak pernah bisa menolak permintaanmu
Senora : Panggilan sopan untuk wanita (semacam kata Nyonya, atau Mrs)
Sí. Lo siento, quién : Iya. Maaf, anda siapa?
Bienvenida de nuevo, Jason : Selamat datang kembali, Jason
Esperar : Tunggu
Espere un minuto : Tunggu sebentar
Désolé de vous avoir fait attendre longtemps, Jason : Maaf membuatmu menunggu lama, Jason (Bahasa Prancis)
Allez. Je ne peux pas attendre pour explorer Madrid : Ayo. Aku tak sabar untuk menjelajahi Madrid ( Bahasa Prancis )
Kak, fontnya terlalu lembut nan imut, agak susah bacanya nih... apalagi mataku minus.... ;)
BalasHapusmihihi.. jangan dipanggil kak mbak.
Hapusaku masih mahasiswi. :D
hehe.. iya ini mau diganti. :D makasih diingetin ya mbakk. :D