Late Post : Jogja :*

Hola!

Sudah lama saya ingin bercerita tentang ini, tapi selalu terhalang hal-hal yang entah penting, atau kurang penting. Entah malas, atau memang tak sempat.

Saya mempunyai DreamsCity , semacam kota-kota impian yang ingin saya telusuri atau bahkan menjadi bagian didalamnya suatu hari nanti. They are : Malang, Bali, Jogja, Mekah, Madinah, Madrid, Paris, dan masih banyak lagi. Sejauh ini, baru tiga kota yang telah saya kunjungi.

Namun, ada salah satu kota dalam negeri yang membuat saya selalu ingin kembali kesana. Saya selalu mencintai kota ini, dan entah apa alasannya untuk itu. Setiap sudutnya selalu membuat saya betah, nyaman, dan tentram. Sudut-sudut kota ini seperti memiliki medan magnet kuat yang selalu menarik hati saya untuk memasukkannya dalam list jalan-jalan saya tiap tahunnya, meskipun list-list itu masih terganjal perijinan dari kedua orang tua.
This Is, Yogjakarta.

Ada sebuah pengalaman, yang entah bisa dikatakan gaib atau menarik. Januari silam, liburan semester 3, saya mengunjungi Jogja untuk kesekian kali bersama keluarga.

Sore itu, keluarga saya berangkat tanpa rencana. Mungkin ini adalah luapan kekecewaan ayah terhadap suatu hal yang membuat beliau merasa tidak dihargai oleh seseorang.

Kami sampai di penginapan teman Ayah pukul 2 dini hari. Ayah, yang rindu kepara pemilik penginapan- yang notabene adalah teman Ayah saat kuliah di Jogja, harus mengubur dalam rindu, karena saat kami menginjakkan kaki di Jogja, ternyata teman Ayah tepat 100 hari berpulang ke rahmatullah. Inalillahi..

Paginya kami menyusuri ‘Padusan Puteri Keraton’ yang lebih dikenal dengan Tamansari. Kompleks pemandian ratu-ratu keraton tempo dulu ini luas banget, bahkan ada rumah-rumah penduduk di dalam kompleks padusan. Penduduk-penduduk ini sudah terbiasa dengan hadirnya pengunjung-pengunjung yang ingin menikmati megahnya arsitektur padusan yang kuno, namun cukup menarik untuk dijadikan objek.

Nah, disini saya bertemu kakek-kakek dengan usia sekitar 80-an tahun sedang menarik gerobak sampah. Saya kira beliau ini adalah bapak tukang sampah biasa, hingga ketika Ayah saya menanyakan jalan kepada beliau, kakek tua ini serta-merta meninggalkan gerobak sampahnya di depan rumah salah satu penduduk dan mengantarkan kami mengelilingi Tamansari.

Saat kami berada dalam bangunan bawah tanah yang kata kakek ini dulunya adalah masjid, beliau berkata, bahwa saat pertama melihat Ayah saya, beliau merasakan bertamu dengan ‘sedulur’ , bukan orang lain. Beliau yang ternyata bekas abdi dalem keraton ini berkata bahwa Ayah masih memiliki darah keturunan keraton Jogja. Beliau bertanya, apakah kakek saya termasuk orang yang dihormati di tempatnya. Lalu Ayah berkata, jika Bapak, dan Kakek Ayah adalah orang yang dihormati/petinggi di daerahnya. Si kakek juga berkata, bahwa ia bisa merasakan jika ada orang yang masih keturunan keraton memasuki kompleks Tamansari.

Awalnya, saya hanya menganggap kakek ini telah pikun dan bercerita asal-asalan, mengingat usia beliau yang sepertinya sudah renta. Namun, pemikiran saya sirna ketika beliau disapa secara sopan oleh penjaga-penjaga Tamansari, dan sepertinya penjaga Tamansari tau betul siapa Kakek tersebut.

Sampai sekarang, terkadang saya masih memikirkan perkataan kakek itu dan menghubungkannya dengan kecintaan saya terhadap Jogja, kerinduan saya akan kota di selatan Jawa ini. mungkin, kerinduan saya berhubungan dengan darah Jogja yang saya miliki? Hahaha.. mungkin saja!


Peluk sayang,


Traveler Wannabe! :*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Life After You

MakerAp (Sebuah Kelas, Sebuah Cerita)

Kini, Aku Menemukanmu...