Setiap Tempat Punya Cerita - Madrid 3
Luna*
Suasana Madrid pukul 3 pagi yang lumayan lengang serta-merta membuatku betah duduk di balkon kamar. Meskipun angin musim panas setiap malam telah bertransformasi menjadi angin dingin.
Gemerlap lampu kota dari kejauhan memanjakan mataku, jalanan terasa sepi, meskipun tak terlalu lengang. Madrid termasuk negara dengan tingkat kehidupan malam yang tinggi, bisa dilihat dari beberapa cafe dan kedai yang baru buka saat mendekati tengah malam.
Aku pernah iseng-iseng menyusuri kawasa Chueca dan Malasana bersama Alandra, namun, aku tak menemukan tempat-tempat prostitusi seperti yang dapat dengan mudah kutemukan di Netherland, saat aku berkunjung ke rumah Rio-Kakakku, melainkan suguhkan musik-musik era 50-60’an yang akan dinikmati oleh semua generasi di kota ini.
Kudekapkan selimut menutupi badanku yang berbaring diatas kursi malas, memutuskan untuk tidur dibawah langit Madrid dan angin malam musim panasnya. Hingga paginya aku terlambat bangun, dan terlambat menyadari bahwa aku mempunyai janji kepada Nathan.
Aku terbangun pukul sembilan waktu Madrid, dengan belasan panggilan tak terjawab dari Alandra. Saat telfonku berdering, aku segera mengangkatnya pada deringan pertama, lalu suara Alandra yang menggelegar perlahan membuat telingaku berdenyut nyeri.
“Dios mío*, Luna! Kamu baru bangun? Natan telah menunggumu sedari pagi tadi.” kata Alandra, teriakannya tersamar diantara riuh ramainya kedai, “cepatlah mandi, kutunggu kau di kedai satu jam lagi. Comprender*?”
***
Aku tiba di kedai satu jam kemudian, tentunya dengan mengarahkan segala tenaga untuk bergerak menyaingi kecepatan cahaya. Aku memasuki kedai dengan nafas terengah, dengan keringat memenuhi dahiku.
“Bonjour, Luna. sudah sarapan?” aku menggeleg, entah sejak kapan Nathan telah berada di sampingku. “Yuk, sarapan. Gue udah numpang bikin nasi goreng di dapur kedai.”
Aku mengikuti Nathan yang telah menyiapkan meja di salah satu sudut kedai yang jarang ditempati orang. Dihadapanku telah tersedia sepiring nasi goreng telur dan secangkir kopi susu panas.
“Sori udah ngerepotin lo. Sebenarnya gue nggak apa pergi sendiri, tapi Jason bilang, Madrid nggak terlalu aman buat turis baru kayak gue.” Kata Nathan, setelah memasukkan sendok pertamanya ke dalam mulut.
Aku hanya menggelengkan kepalaku sambil mengunyah pelan nasi goreng dihadapanku, “Nggak apa, aku juga udah lama nggak keliling Madrid. Kamu, di Paris sering masak sendiri?”
“Oui, kok lo tau?” Nathan balik bertanya.
“Nasi goreng ini nasi goreng ter enak yang pernah aku makan di sini.” Jawabku jujur.
“Merci, Luna.”jawab Nathan pendek.
Sarapan pagi kami tak dipenuhi obrolan ngalur-ngidul seperti yang banyak dilakukan ornag-orang untuk sekedar berbasa-basi saat berkumpul di meja makan. Nathan memilih melihat brosur kota Madrid. Sedangkan aku melihat orang-orang- yang bisa ku pastikan sebagian besar dari mereka adalah turis-berlalu-lalang di depan kedai.
“By the way, hari pertama kamu mau kemana?” tanyaku setelah nasi gorengku kandas dan kuangkat gelas kopi susuku.
“karena gue sorang penggemar sepak bola, dan klub favorit gue adalah Real Madrid, jadi sepertinya lo tau gue pengen kemana,” jawab Nathan sembari tersenyum lebar.
***
Dan di sinilah kami, Estadio Santiago Bernabeu, stadion kebanggaan masyarakat Madrid. Sekarang aku tau, mengapa ia memakai jersey Madridnya pagi ini. Nathan begitu bersemangat mengikuti tournya, memintaku mengambil gambarnya dibeberapa tempat. Dari bangku penonton, sampai bangku pemain, dari ruangan ganti para pemain, hingga tempat tehnical meeting yang biasanya digelar sebelum pertandingan.
Ia bercerita banyak, mengapa ia suka dengan klub ini. Menceritakan pemain-pemainnya yang tak ku kenal-aku hanya mengetahui Christiano Ronaldo. Ia juga mencandaiku, bahwa aku harusnya menikmati setiap pertandingan yang diselenggarakan di Bernabeu ini.
Tour kami selesai tepat pukul 12 siang. Selama itu pula, aku baru menyadari. Ada banyak hal yang Nathan bicarakan hari ini. Bukan hanya makhluk datar dengan senyuman manisnya. Dan aku kira, dia lebih manis saat berbicara.
Nathan*
Malam itu, saat membatu Alandra memberesi meja makan. Sebisa mungkin gue nggak menanyakan segala sesuatu tentang Luna yang bisa bikin gue terlihat konyol didepan Jason dan Alandra. Hingga akhirnya Alandra sendiri yang menceritakan segala sesuatu tentang Luna.
“Si, Nathan, manfaatkan momenmu di Madrid, dengan Luna.” kata Jason sesaat setelah menelungkupkan wajahnya diatas bantal.
“Pardon me?” tanya gue, “Jason, bisa lo perjelas?” namun hanya sebuah suara dengkuran halus yang gue denger.
***
Gue bangun terlalu pagi karena semalaman nggak bisa memejamkan mata. Memutuskan pergi mandi dan memakai Jersey kesayangan gue.
“buenos dias, Nathan.” Sapa Alandra saat gue turun untuk membantunya di Kedai.
“Bonjour, Alandra, boleh gue pinjem dapur lo bentar?”
“Cierto, Nathan. Mau buat sarapan? biar aku yang masak” kata Alandra dengan bahasa Indonesianya yang fasih. Seumur-umur, gue baru lihat orang asing selain grandma gue bicara bahasa Indonesia secara fasih.
“Nggak, biar gue yang masak sendiri. Pelanggan lo udah mulai rame tuh,”
“jangan biang kamu mau masak sarapan buat Luna juga?” Alandra meletakkan serbet di tangannya dan melihat gue. Tangannya bersidekap di depan dada dan matanya seakan tengah mengintrogasi gue. Dan, sepertinya pertanyaannya barusan nggak perlu gue jawab.
Gue menunggu Luna yang katanya bakal dateng tepat pukul 7. Namun, sampai jam delapan, nggak ada tanda-tanda Luna bakal dateng.
“Alandra, bisa tolong lo telfon Luna? Jam segini kok dia belom muncul, ya?” kataku pada Alandra.
“Si,” jawab Alandra pendek. Lalu beberapa lama kemudian terdengar suara Alandra yang berteriak di depan telefonnya. “Dios mio, Luna! Kamu baru bangun? Nathan sudah menunggumu dari pagi,”
Gue mutusin buat nunggu Luna di bangku depan Kedai. Menikmati lalu-lalang turis asing yang berjalan-jalan sepanjang jalanan Madrid. Hingga gue merasa bosan lalu akhirnya mengambil langkah buat menyusuri sekitar kedai.
Luna sampai satu jam kemudian, tepat saat gue balik dari jalan-jalan pagi gue. Gue akhirnya mendekati Luna yang masih terlihat mengatus napasnya setelah melakukan balapan waktu, dan menyapanya duluan.
“Bonjour, Luna. udah sarapan? sarapan, yuk? Gue udah bikin nasi goreng hasil minjem dapur Alandra,”
***
Beruntung gue sering masak semenjak tinggal sama grandma beberapa tahun terakhir. Sejak gue kuliah di Paris dan pertama kali mencicipi masakan grandma, gue langsung bertekat untuk belajar memasak masakan Indonesia. Rasanya aneh, ketika seumur hidup lo, lo abisin buat makan makanan Indonesia, lalu kemudian lo ‘dipaksa’ untuk makan-makanan Perancis yang tentunya lo sendiri belom pernah ngerasain. Gue saranin, jangan lo lakuin, atau lo bakal sering mengunjungi kamar mandi selama dua hari.
Luna menandaskan nasi goreng bikinan gue tanpa tersisia. Nasi goreng paling enak yang pernah dia temuin di Madrid, katanya. Kemudian dengan anggunnya, dia meneguk pelan kopi susu dari segelas cangkir putih bergambar Plaza Mayor.
Gue pernah lihat foto Luna di akun facebook Jason, saat Alandra memberi tag pada foto dia dan Luna yang berlatar senja di Retiro Park. Gue sempat tanya ke Jason, jawaban yang diucapkan Jason sama sekali nggak ngebantu rasa penasaran gue. Hingga sampai dua minggu kemudian, Jaso menawari gue buat liburan di Madrid, yang tentu saja nggak gue tolak. How lucky am I.
“Mau kemana kita hari ini, Nat?” tanya Luna, membuyarkan lamunan gue.
Gue meletakkan brosur di dekat cangkir kopi susu yang udah setengah kosong, “karena gue suka bola, dan klub favorit gue Real Madrid, sepertinya lo paham gue pengen kemana,”
***
Luna mengantrekan tiket tour Santiago Bernabeu buat gue. Beruntung, hari ini tak ada pertandingan yang dilaksanakan, sehingga tiket hanya berharga 19 EURO. Lebih murah 16 EURO jika sedang berlangsung pertandingan. Namun, gue sebagai fans yang cukup fanatik sedikit kecewa, karena nggak bisa menyaksikan jalannya pertandingan klub favorit gue.
Ini pertama kalinya gue mengnjakkan kaki di stadion ini. Dengan agak noraknya, dan bergaya layaknya turis lainnya, gue meminta tolong Luna mengambilkan gambar gue.
Gue dengan bangganya meneritakan sedikit tentang klub ini, pemain-pemainnya, dan ditangapi Luna dengan datar, karena dia nggak pernah suka bola.
“Sekali-kali, lo harus nonton, Na. lihat jalannya pertandingan. Asli, asik banget,” gue berkata sambil melihatnya. Bulir-bulir keringat yang mlai menghiasi kening Luna agaknya membuat gue terkesima. Bukan karena keringatnya, tapi karena manisnya gadis di sebelah gue.
Gue baru sadar, betapa cantiknya dia hanya dengan celana jeans selututnya, t-shirt yang ps dibadannya, ransel kecil dipunggungnya, sepatu kets coklat yang dia pakai, sampe rambut yang dikuncirnya asal-asalan. Tangannya memegang DSLR yang talinya digantungkan di leher. Lalu menelusuri leher dan anak-anak rambut liar yang tak ikut terkuncir di sekitar lehernya. Lalu turun ke… Ah! Sial, apa yang gue pikirin!
Gue mencoba menghapus pikiran yang nggak sepantasnya muncul di kepala gue. Dan gara-gara pikiran ngaco gue barusan, selama sisa waktu tour, pikiran gue terbagi antara fokus dengan interior stadion, dan gadis di sebelah gue. Dan seketika itu juga, dia bikin gue gugup.
Continuo~
Suasana Madrid pukul 3 pagi yang lumayan lengang serta-merta membuatku betah duduk di balkon kamar. Meskipun angin musim panas setiap malam telah bertransformasi menjadi angin dingin.
Gemerlap lampu kota dari kejauhan memanjakan mataku, jalanan terasa sepi, meskipun tak terlalu lengang. Madrid termasuk negara dengan tingkat kehidupan malam yang tinggi, bisa dilihat dari beberapa cafe dan kedai yang baru buka saat mendekati tengah malam.
Aku pernah iseng-iseng menyusuri kawasa Chueca dan Malasana bersama Alandra, namun, aku tak menemukan tempat-tempat prostitusi seperti yang dapat dengan mudah kutemukan di Netherland, saat aku berkunjung ke rumah Rio-Kakakku, melainkan suguhkan musik-musik era 50-60’an yang akan dinikmati oleh semua generasi di kota ini.
Kudekapkan selimut menutupi badanku yang berbaring diatas kursi malas, memutuskan untuk tidur dibawah langit Madrid dan angin malam musim panasnya. Hingga paginya aku terlambat bangun, dan terlambat menyadari bahwa aku mempunyai janji kepada Nathan.
Aku terbangun pukul sembilan waktu Madrid, dengan belasan panggilan tak terjawab dari Alandra. Saat telfonku berdering, aku segera mengangkatnya pada deringan pertama, lalu suara Alandra yang menggelegar perlahan membuat telingaku berdenyut nyeri.
“Dios mío*, Luna! Kamu baru bangun? Natan telah menunggumu sedari pagi tadi.” kata Alandra, teriakannya tersamar diantara riuh ramainya kedai, “cepatlah mandi, kutunggu kau di kedai satu jam lagi. Comprender*?”
***
Aku tiba di kedai satu jam kemudian, tentunya dengan mengarahkan segala tenaga untuk bergerak menyaingi kecepatan cahaya. Aku memasuki kedai dengan nafas terengah, dengan keringat memenuhi dahiku.
“Bonjour, Luna. sudah sarapan?” aku menggeleg, entah sejak kapan Nathan telah berada di sampingku. “Yuk, sarapan. Gue udah numpang bikin nasi goreng di dapur kedai.”
Aku mengikuti Nathan yang telah menyiapkan meja di salah satu sudut kedai yang jarang ditempati orang. Dihadapanku telah tersedia sepiring nasi goreng telur dan secangkir kopi susu panas.
“Sori udah ngerepotin lo. Sebenarnya gue nggak apa pergi sendiri, tapi Jason bilang, Madrid nggak terlalu aman buat turis baru kayak gue.” Kata Nathan, setelah memasukkan sendok pertamanya ke dalam mulut.
Aku hanya menggelengkan kepalaku sambil mengunyah pelan nasi goreng dihadapanku, “Nggak apa, aku juga udah lama nggak keliling Madrid. Kamu, di Paris sering masak sendiri?”
“Oui, kok lo tau?” Nathan balik bertanya.
“Nasi goreng ini nasi goreng ter enak yang pernah aku makan di sini.” Jawabku jujur.
“Merci, Luna.”jawab Nathan pendek.
Sarapan pagi kami tak dipenuhi obrolan ngalur-ngidul seperti yang banyak dilakukan ornag-orang untuk sekedar berbasa-basi saat berkumpul di meja makan. Nathan memilih melihat brosur kota Madrid. Sedangkan aku melihat orang-orang- yang bisa ku pastikan sebagian besar dari mereka adalah turis-berlalu-lalang di depan kedai.
“By the way, hari pertama kamu mau kemana?” tanyaku setelah nasi gorengku kandas dan kuangkat gelas kopi susuku.
“karena gue sorang penggemar sepak bola, dan klub favorit gue adalah Real Madrid, jadi sepertinya lo tau gue pengen kemana,” jawab Nathan sembari tersenyum lebar.
***
Dan di sinilah kami, Estadio Santiago Bernabeu, stadion kebanggaan masyarakat Madrid. Sekarang aku tau, mengapa ia memakai jersey Madridnya pagi ini. Nathan begitu bersemangat mengikuti tournya, memintaku mengambil gambarnya dibeberapa tempat. Dari bangku penonton, sampai bangku pemain, dari ruangan ganti para pemain, hingga tempat tehnical meeting yang biasanya digelar sebelum pertandingan.
Ia bercerita banyak, mengapa ia suka dengan klub ini. Menceritakan pemain-pemainnya yang tak ku kenal-aku hanya mengetahui Christiano Ronaldo. Ia juga mencandaiku, bahwa aku harusnya menikmati setiap pertandingan yang diselenggarakan di Bernabeu ini.
Tour kami selesai tepat pukul 12 siang. Selama itu pula, aku baru menyadari. Ada banyak hal yang Nathan bicarakan hari ini. Bukan hanya makhluk datar dengan senyuman manisnya. Dan aku kira, dia lebih manis saat berbicara.
Nathan*
Malam itu, saat membatu Alandra memberesi meja makan. Sebisa mungkin gue nggak menanyakan segala sesuatu tentang Luna yang bisa bikin gue terlihat konyol didepan Jason dan Alandra. Hingga akhirnya Alandra sendiri yang menceritakan segala sesuatu tentang Luna.
“Si, Nathan, manfaatkan momenmu di Madrid, dengan Luna.” kata Jason sesaat setelah menelungkupkan wajahnya diatas bantal.
“Pardon me?” tanya gue, “Jason, bisa lo perjelas?” namun hanya sebuah suara dengkuran halus yang gue denger.
***
Gue bangun terlalu pagi karena semalaman nggak bisa memejamkan mata. Memutuskan pergi mandi dan memakai Jersey kesayangan gue.
“buenos dias, Nathan.” Sapa Alandra saat gue turun untuk membantunya di Kedai.
“Bonjour, Alandra, boleh gue pinjem dapur lo bentar?”
“Cierto, Nathan. Mau buat sarapan? biar aku yang masak” kata Alandra dengan bahasa Indonesianya yang fasih. Seumur-umur, gue baru lihat orang asing selain grandma gue bicara bahasa Indonesia secara fasih.
“Nggak, biar gue yang masak sendiri. Pelanggan lo udah mulai rame tuh,”
“jangan biang kamu mau masak sarapan buat Luna juga?” Alandra meletakkan serbet di tangannya dan melihat gue. Tangannya bersidekap di depan dada dan matanya seakan tengah mengintrogasi gue. Dan, sepertinya pertanyaannya barusan nggak perlu gue jawab.
Gue menunggu Luna yang katanya bakal dateng tepat pukul 7. Namun, sampai jam delapan, nggak ada tanda-tanda Luna bakal dateng.
“Alandra, bisa tolong lo telfon Luna? Jam segini kok dia belom muncul, ya?” kataku pada Alandra.
“Si,” jawab Alandra pendek. Lalu beberapa lama kemudian terdengar suara Alandra yang berteriak di depan telefonnya. “Dios mio, Luna! Kamu baru bangun? Nathan sudah menunggumu dari pagi,”
Gue mutusin buat nunggu Luna di bangku depan Kedai. Menikmati lalu-lalang turis asing yang berjalan-jalan sepanjang jalanan Madrid. Hingga gue merasa bosan lalu akhirnya mengambil langkah buat menyusuri sekitar kedai.
Luna sampai satu jam kemudian, tepat saat gue balik dari jalan-jalan pagi gue. Gue akhirnya mendekati Luna yang masih terlihat mengatus napasnya setelah melakukan balapan waktu, dan menyapanya duluan.
“Bonjour, Luna. udah sarapan? sarapan, yuk? Gue udah bikin nasi goreng hasil minjem dapur Alandra,”
***
Beruntung gue sering masak semenjak tinggal sama grandma beberapa tahun terakhir. Sejak gue kuliah di Paris dan pertama kali mencicipi masakan grandma, gue langsung bertekat untuk belajar memasak masakan Indonesia. Rasanya aneh, ketika seumur hidup lo, lo abisin buat makan makanan Indonesia, lalu kemudian lo ‘dipaksa’ untuk makan-makanan Perancis yang tentunya lo sendiri belom pernah ngerasain. Gue saranin, jangan lo lakuin, atau lo bakal sering mengunjungi kamar mandi selama dua hari.
Luna menandaskan nasi goreng bikinan gue tanpa tersisia. Nasi goreng paling enak yang pernah dia temuin di Madrid, katanya. Kemudian dengan anggunnya, dia meneguk pelan kopi susu dari segelas cangkir putih bergambar Plaza Mayor.
Gue pernah lihat foto Luna di akun facebook Jason, saat Alandra memberi tag pada foto dia dan Luna yang berlatar senja di Retiro Park. Gue sempat tanya ke Jason, jawaban yang diucapkan Jason sama sekali nggak ngebantu rasa penasaran gue. Hingga sampai dua minggu kemudian, Jaso menawari gue buat liburan di Madrid, yang tentu saja nggak gue tolak. How lucky am I.
“Mau kemana kita hari ini, Nat?” tanya Luna, membuyarkan lamunan gue.
Gue meletakkan brosur di dekat cangkir kopi susu yang udah setengah kosong, “karena gue suka bola, dan klub favorit gue Real Madrid, sepertinya lo paham gue pengen kemana,”
***
Luna mengantrekan tiket tour Santiago Bernabeu buat gue. Beruntung, hari ini tak ada pertandingan yang dilaksanakan, sehingga tiket hanya berharga 19 EURO. Lebih murah 16 EURO jika sedang berlangsung pertandingan. Namun, gue sebagai fans yang cukup fanatik sedikit kecewa, karena nggak bisa menyaksikan jalannya pertandingan klub favorit gue.
Ini pertama kalinya gue mengnjakkan kaki di stadion ini. Dengan agak noraknya, dan bergaya layaknya turis lainnya, gue meminta tolong Luna mengambilkan gambar gue.
Gue dengan bangganya meneritakan sedikit tentang klub ini, pemain-pemainnya, dan ditangapi Luna dengan datar, karena dia nggak pernah suka bola.
“Sekali-kali, lo harus nonton, Na. lihat jalannya pertandingan. Asli, asik banget,” gue berkata sambil melihatnya. Bulir-bulir keringat yang mlai menghiasi kening Luna agaknya membuat gue terkesima. Bukan karena keringatnya, tapi karena manisnya gadis di sebelah gue.
Gue baru sadar, betapa cantiknya dia hanya dengan celana jeans selututnya, t-shirt yang ps dibadannya, ransel kecil dipunggungnya, sepatu kets coklat yang dia pakai, sampe rambut yang dikuncirnya asal-asalan. Tangannya memegang DSLR yang talinya digantungkan di leher. Lalu menelusuri leher dan anak-anak rambut liar yang tak ikut terkuncir di sekitar lehernya. Lalu turun ke… Ah! Sial, apa yang gue pikirin!
Gue mencoba menghapus pikiran yang nggak sepantasnya muncul di kepala gue. Dan gara-gara pikiran ngaco gue barusan, selama sisa waktu tour, pikiran gue terbagi antara fokus dengan interior stadion, dan gadis di sebelah gue. Dan seketika itu juga, dia bikin gue gugup.
Continuo~
Komentar
Posting Komentar