Postingan

Pulang

Aku menulis ini melalui ponsel pintar yang lebih tepatnya membuat di empunya berubah menjadi autis. Ansos. Atau apalah yang orang lain sebutkan. Aku dalam perjalanan pulang, sayang. Menuju ke sebuah tempat yang kusebut rumah. Bukan. Bukan sebuah rumah untuk hati. Belumkah kau tau, kalau hatiku telah memiliki tempatnya pulang di dirimu? Namun, sayang, meskipun kau belum mengetahuinya, itu tak akan membuatku mencari rumah lain yang lebih nyaman. Taukah kau sayang, aku menemukan rumah ini tanpa terduga, aku menemukannya dibalik lensa yang selalu menutupi mata beningmu. Ya, beruntunglah aku, karena tiap bertemu denganmu, kau tak pernah melupakan lensa kotak berbingkai hitam yang selalu bertengger di puncak hidung mancungmu. Hingga aku dapat menahan diri untuk tidak terhisap dalam tatapanmu yang begitu mempesonaku. Ah, aku tak mencoba memujimu dengan sepenggal tulisan yang tak beraturan ini, sayang. Aku hanya menuliskan sebuah kejujuran yang harus kau lihat. Ah, kan, aku selalu menjadi me...

Selamat Menikmati Senja

Gambar
Alo! Ini postingan kedua dalam tahun 2014, setelah beberapa bulan absen ngeblog karena fokus urusan kampus sama KKN. Bisa dikatakan males ya, untuk ukuran orang yang pernah mengikhrarkan dirinya sebagai seorang blogger. Forgive me, God. O:) Hari ini nggak mau posting apa-apa dulu, karena kecapean habis sepedaan keliling Desa tercinta. Cuma lagi santai aja di depan rumah sambil baca buku Jelajah Negeri Sendiri sama lihatin senja atas rumah. Plus mau  ngucapin selamat menikmati senja, dimanapun kalian berada. PS : tungguin aja cerita perjalanan selama KKN yang sooner bakal diposting di blog nggak jelas ini. Adios! *kecup* Rgrd Blogger Males

MakerAp (Sebuah Kelas, Sebuah Cerita)

"Persahabatan sangat diperlukan dalam hidup, karena tanpa sahabat hidup terasa hambar, walau pun kita memiliki kekayaan dan kemasyhuran." - Aristotle Siapin Playlist : Sheila On 7 - Kisah Klasih Untuk Masa Depan Bondan Fade2Black - Kita Selamanya Project Pop - Ingatlah Hari Ini Ada orang-orang yang begitu berarti dalam hidup kita, meskipun ada beberapa proses yang kita butuhkan untuk memasukkan mereka ke dalam wilayah teritorial yang penting itu. Manusia-manusia yang selalu mendukung dan memberi support yang kita butuhkan. Manusia dengan segala bentuk dan sifat masing-masing, namun tetap bersama karena sebuah alasan. Kita menyebut mereka Sahabat. Orang yang selalu membentuk sebuah garis lengkungan di bibir ketika bersama. Orang yang akan dengan senang hati berada di sebelah kita saat kita hampir kehilangan semangat. Orang yang dengan senang hati menghapus air mata, dan memeluk kita seraya berkata : semua akan baik-baik saja. Aku mengenal mereka bukan dalam waktu yang...

Setiap Tempat Punya Cerita - Madrid 3

Luna* Suasana Madrid pukul 3 pagi yang lumayan lengang serta-merta membuatku betah duduk di balkon kamar. Meskipun angin musim panas setiap malam telah bertransformasi menjadi angin dingin. Gemerlap lampu kota dari kejauhan memanjakan mataku, jalanan terasa sepi, meskipun tak terlalu lengang. Madrid termasuk negara dengan tingkat kehidupan malam yang tinggi, bisa dilihat dari beberapa cafe dan kedai yang baru buka saat mendekati tengah malam. Aku pernah iseng-iseng menyusuri kawasa Chueca dan Malasana bersama Alandra, namun, aku tak menemukan tempat-tempat prostitusi seperti yang dapat dengan mudah kutemukan di Netherland, saat aku berkunjung ke rumah Rio-Kakakku, melainkan suguhkan musik-musik era 50-60’an yang akan dinikmati oleh semua generasi di kota ini. Kudekapkan selimut menutupi badanku yang berbaring diatas kursi malas, memutuskan untuk tidur dibawah langit Madrid dan angin malam musim panasnya. Hingga paginya aku terlambat bangun, dan terlambat menyadari bahwa aku me...

Bukan Menyerah, Hanya Mencari Bahagiaku

Bagaimana jika pada akhirnya aku berhenti mengharapkanmu? Berhenti menyebut namamu di setiap rapalan doaku. Berhenti tersenyum saat mengingatmu. Berhenti mengagumimu. Bagaimana jika pada akhirnya aku berpindah kehati yang lain? Mengemas segala barang-barang usang yang kau tinggalkan di ruangan hatiku. Membuang segala ingatan yang mereka bilang berlebihan tentangmu. Mencoba mengosongkan ruangan hatiku untuk siapapun nantinya. Apakah kau tau mengapa aku melakukannya? Apakah kau tau mengapa aku ingin mengosongkannya darimu? Karena semua orang ingin bahagia. Dan aku pun menginginkannya.

Late Post : Jogja :*

Hola! Sudah lama saya ingin bercerita tentang ini, tapi selalu terhalang hal-hal yang entah penting, atau kurang penting. Entah malas, atau memang tak sempat. Saya mempunyai DreamsCity , semacam kota-kota impian yang ingin saya telusuri atau bahkan menjadi bagian didalamnya suatu hari nanti. They are : Malang, Bali, Jogja, Mekah, Madinah, Madrid, Paris, dan masih banyak lagi. Sejauh ini, baru tiga kota yang telah saya kunjungi. Namun, ada salah satu kota dalam negeri yang membuat saya selalu ingin kembali kesana. Saya selalu mencintai kota ini, dan entah apa alasannya untuk itu. Setiap sudutnya selalu membuat saya betah, nyaman, dan tentram. Sudut-sudut kota ini seperti memiliki medan magnet kuat yang selalu menarik hati saya untuk memasukkannya dalam list jalan-jalan saya tiap tahunnya, meskipun list-list itu masih terganjal perijinan dari kedua orang tua. This Is, Yogjakarta. Ada sebuah pengalaman, yang entah bisa dikatakan gaib atau menarik. Januari silam, liburan semester ...

Setiap Tempat Punya Cerita - Madrid 2

Luna* Alandra mengundangku untuk cena di kedai kecilnya. Katanya, sebagai ucapan terima kasih, karena bersedia membantunya di kedai dan menjemput sepupunya di Barajas. “Muchas gracias, Alandra. Kau ini, lain kali tak usah repot-repot begini. Aku suka bekerja di kedai ini. Rasanya seperti berada di dapur rumah sendiri.” Kataku. Alandra menuangkan vino tinto* ke dalam empat gelas kecil diatas meja. “No, Luna. kau telah membantu banyak kali ini. aku yang seharusnya berterima kasih. Sekarang kau diam, duduk dan aku akan menyajikan Abondigas Sofrito* untukmu” Ucapnya sambil menunjukkan mimik galaknya. Tapi, dengan raut mukanya yang tak bisa terlihat galak-sekalipun ia sedang marah, itu malah akan membuat siapapun yang melihat ekspresinya sekarang ini akan langsung tertawa terpingkal-pingkal. Termasuk Jason dan Nathan. “Por qué*?” tanya Alandra. Seketika kami bertiga menghentikan tawa kami lalu serempak berkata tidak. “Así, Luna. Bagaimana kau bisa terdampar di Madrid? Bukankah m...